Wednesday, September 7, 2016

Mengunjungi Air Terjun Bayang Sani, Tempat Noni-Noni Belanda Mandi


Air Terjun Bayang Sani merupakan salah satu air terjun yang wajib dijelajah bila bertandang ke Kabupaten Pesisir Selatan dan menjadi destinasi kedua yang dikunjungi. Setelah sebelumnya singgah dulu ke perbatasan Kota Padang-Kabupaten Pesisir Selatan kemudian melewati Puncak Bukit Bendera. Perjalanan selanjutnya dilanjutkan menuju Air Terjun Bayang Sani, Jembatan Akar Bayang dan Warung Pohon di Negeri Atas Awan.

Masih bersama Fauziah Suci Wijaya (Uchi), Farrah Fadhilah Hanum (Bakpau), abang Eka Mardika, Fitrah Mardhatillah Husna (Una) dan Tika mencoba menjelajah sisi lain keindahan alam Kabupaten Pesisir Selatan ini. Wisata Alam Hijau Pesisir Selatan 

Sekitar 6 km dari Puncak Bukit Bendera akan tiba di Air Terjun Bayang Sani yang berada di Nagari Kota Baru, Kecamatan Bayang, Kabupaten Pesisir Selatan. Air terjun ini sangat populer dan menjadi salah satu ikon dari Kabupaten Pesisir Selatan yang harus ditempuh sejauh 60 Km dari Kota Padang atau dari Painan sekitar 20 Km. Air terjun ini terletak 3 km sebelum Jembatan Akar.

Selama perjalanan hamparan sawah dan perbukitan menjadi pemandangan yang akan ditemui. Tidak mengisyaratkan kawasan pesisir. Semakin kedalam maka semakin hijau daerahnya. Untuk sampai ke air terjun ini akan ditemui tandanya dari papan namanya. Bisa juga cari Masjid Jihad Koto Baru kemudian belok ke kanan dan ikut jalanannya hingga menemukan gapura begonjong yang tingginya lebih dari 3 m. Dari jalan hingga sampai ke lokasi sekitar 250 m.

Setelah itu akan ada petugas dari masyarakat setempat untuk meminta retribusi masuk area objek wisata Rp5.000 per orangnya. Kendaraan pun kami parkirkan dari perjalanan masuk sudah terlihat air terjunnya, semakin dekat semakin terdengar keras suara gemuruh jutaan kubik air yang jatuh dari ketinggian ini. Biaya parkir untuk motor Rp.2.000, mobil Rp.5.000 dan bus mini Rp.10.000.

Air Terjun Bayang Sani memiliki 7 tingkatan, namun hanya sampai tingkatan ketiga yang dapat dikunjungi, selebihnya membutuhkan waktu yang cukup lama dan jarang dikunjungi oleh para wisatawan. Umumnya, pengunjung hanya datang ke air terjun tingkat pertama sebab tidak membutuhkan waktu yang lama dan tidak perlu juga traking. Kabarnya air terjun tingkat kedua terletak kira-kira 400 m di atas air terjun tingkat pertama dan memilik ketinggian sekitar 25 m. Sedangkan untuk tingkatan berikutnya belum ada datanya.

Tempat Noni Noni Belanda Mandi


Ternyata air terjun tingkat pertama ini memiliki sejarah yang menarik juga. Dulu pada masa penjajahan Hindia Belanda, air terjun ini kerap menjadi tempat mandi noni-noni dan mener-mener Belanda. Kawasan ini dulunya diberi nama Well Come, karena disambut oleh keindahan alam yang menakjubkan dan merasa nyaman ketika mandi di sana. 

Masyarakat sekitar kemudian menyebut nama air terjun ini dari kata tersebut yang melesap dengan tutur lisan sehari-hari menjadi Walikum. Ada juga yang menyebut air terjun ini hingga tahun 1980-an sebagai Sarasah Ikua Kudo atau Air Terjun Ekor Kuda karena bentuknya yang mirip ekor kuda.

Kemudian tahun 1980-an nama air terjun ini berubah seiring perubahan nama daerah-daerah di Sumatra Barat, termasuk Sarasah Ikua Kudo. Air terjun ini pun diberi nama Air Terjun Bayang Sani sesuai nama kawasannya.

Setibanya di air terjun tingkat pertama ini, ingin rasanya melapaskan pakaian dan bermain air sebab aliran airnya begitu jernih dan deras sekali. Kami turun ke bawah dan melintasi aliran sungai dan bebatuan untuk menuju air terjunya agar lebih dekat lagi. butiran-butiran air yang melayang-layang di udara begitu terasa. Segar dan menyenangkan. Ingin terika tapi, ya sudahlah.

Tepat di bawah air terjun ini terdapat lubuak (kolam) yang dimanfaatkan para pengunjung untuk bermain air, berenang dan mandi-mandi. Bagi yang tidak bisa berenang, pengunjung juga bisa sewa ban yang telah disediakan oleh masyarakat sekitar. Tidak disarankan untuk loncat ke dalam lubuak karena banyak bebatuan besar. Tetap jaga keselamatan dan jangan rusuh ya jika mandinya.

Jika dilihat air terjun tingat pertama ini memang lebar kira-kira 50 m dan cukup tinggi sekitar 80 m. Tidak salah bila Air Terjun Bayang Sani ini termasuk katagori air terjun terbesar di Sumatra Barat. Sayangnya karena keterbatasanan waktu, saya hanya menikmati suasana dan berfoto-foto. Itu hal yang wajib bila sampai di suatu destianasi wisata. Hehe

Puas menikmati keindahan goyangan aliran air di Air Terjun Bayang Sani ini, kami singgah ke satu pondok yang menjual makanan dan minuman di tepi air terjun ini. Ialah Ernalis pemiliknya, sempat saya berbincang dengannya.

“Air terjun ini sudah dari zaman Belanda. Pondasi-pondasinya itu sudah ada sejak dulu. Tidak hanya wisatawan lokal saja, namun sesekali dalam satu bulan ada wisatawan mancanegara yang bermain ke sini. Jika hari bisa tidak banyak pengunjung, namun saat akhir pekan akan ramai,” jelasnya Ernalis yang jualan setiap hari di objek wisata Air Terjun Bayang Sani ini, Senin (05/09/2016).

Soal sarana prasaranan sudah lengkap, namun perlu dilakukan peremajaan dan pembenahan saja. Terdapat toilet dan ruang ganti ada di dekat lokasi air terjun. Tempat ibadah juga ada. Begitu juga bila perut lapar, pengunjung tidak perlu panaik karena sudah ada kedai (warung) yang menjual makanan dan minuman ringan, salah satunya itu Ernalis. 

Kawasan Air Terjun Bayang Sani ini masih asri dan rimbun oleh pepohonan. Suplay oksigen di sini sangat banyak pake banget deh. Buktinya saja masih berkeliaran kupu-kupu di sekitar air terjun dan sesekali ada monyet-monyet singgah. Sumber airnya yang jernih ini berhulu dari rimba perbukitan Lumpo yang masuk kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat dan digunakan juga oleh masyarakat untuk mengairi sawah dan kebutuhan sehari-harinya.

Kesegaran Air Terjun Bayang Sani ini mampu memikat pengunjung dan ingin berlama-lama bermain air. Pokoknya, tunggu apalagi. Tentukan jadwal dan saatnya liburan dengan menikmati pesona Air Terjun Bayang Sani yang memiliki cerita yang berbeda.

Jembatan Akar Bayang, Penyambung Asa


Melalui jalan lingkar kami meneruskan perjalanan ke Jembatan Akar yang masuk kedalam wilayah Kenagarian Puluik-Puluik, Kecamatan IV Nagari Bayang Utara, Kabupaten Pesisir Selatan. Sama seperti Air Terjun Bayang Sani, Jembatan Akar juga sangat populer tidak hanya wisatawan dalam saja namun luar negeri pun ini menyaksikan keajaiban alam dari pesona Kabupaten Pesisir Selatan ini. 

Saat tiba, pengunjung akan dikenakan biaya retribusi tiket seharga Rp 5.000 dan parkir motor Rp 3.000 dan mobil Rp.5.000. Kemudian akan menuruni 40 anak tangga sebelum sampai ke jembatan akarnya (hasil mengitung saya bersama Bakpau).

Jembatan ini terbuat dari rangkaian akar pohon yang saling terhubung dan terangkai satu sama lainnya membentang panjang di atas aliran sungai. Terdapat dua pohon yang menjadi pondasi utama jembatan ini yaitu akar dari pohon beringin (kubang) dan pohon Jawi-Jawi.

Jembatan Akar tidak bisa dilepaskan dari cerita ulama setempat yang bernama Pakih Sokan. Jembatan dimulai dibangun pada tahun 1890 hingga dapat digunakan oleh masyarakat pada tahun 1916. Dengan kata lain, proses merajutnya akar membutuhkan waktu lebih kurang 26 tahun hingga akhirnya terbentuk jembatan akar seperti sekarang. 

Antara proses alam dan kekuatan magis membentuk jembatan akar ini, penyambung asa dan harapan masayrakat kedua nagari yang di pisahkan oleh aliran sungai Batang Bayang. Cerita selengkapnya dapat baca Jembatan Akar Bayang Unik dan Melegenda.

Kali kedua saya mengunjugi Jembatan Akar Bayang ini, tidak begitu banyak perubahan hanya saja terdapat semacam tugu selamat datang dan relief ilustrasi bentuk jembatan dan sejarahnya. Begitu juga telah bergantinya warna cat di gapura masuk jembatan ini. Kawasan jembatan akar bayang ini masih saja asri, dingin dan menyimpas sejuta cerita. Tentunya wajib mengunjungi objek wisata ini bila ke Kabupaten Pesisir Selatan.

Setelah mengunjungi desitansi pertama Wisata Perbatasan dan Puncak Bukit Bendera, kemudian dilanjutkan ke destinasi kedua Air Terjun Bayang Sani dan ketiga Jembatan Akar Bayang. Terakhir singgah ke Warung Pohon di Negeri Atas Awan sebagai penutup dari perjalanan Menjelajah Panorama Alam Perbukitan Pesisir Selatan sebagai wisata alam hijau Pesisir Selatan.

Tulisan ini telah dipublikasikan di Detik Travel






————————————————————————————————————————————————————
©Hak Cipta Bayu Haryanto. Jika mengkopi-paste tulisan ini di situs, milis, dan situs jaringan sosial harap tampilkan sumber dan link aslinya secara utuh. Terima kasih.

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...