Thursday, April 13, 2017

Surau Atok Ijuk Sicincin, Masjid Tua dan Mempesona di Padang Pariaman


Surau bagi masyarakat Minangkabau tidak hanya menjadi tempat ibadah dan belajar agama Islam saja, tapi sebagai sarana pendidikan karakter untuk anak nagari melalui kegiatan silat, randai dan aktivitas produktif lainnya, hingga menjadi tempat berembuk tokoh adat setempat.

Surau memiliki arsitektur yang unik dan khas. Terlihat dari atapnya bertingkat berbahan ijuk, berbentuk bujur sangkar dan lantai berpanggung. Di Minangkabau sudah jarang ditemukan surau yang memiliki atap ijuk, jika ada itu pun sudah tua, seperti Surau Atok Ijuk Sicincin atau Masjid Tuo Pauh Sicincin.


Kala itu, dalam perjalanan yang tidak sengaja bertemu dengan masjid tua ini. Dari kejauhan pesonanya sudah terpancar. Arsitektur bangunannya yang menjadi daya pikatnya.

Surau ini berada di Korong Pauh, Nagari Sicincin, Kecamatan 2 x 11 Enam Lingkung, Kabupaten Padang Pariaman. Tidak sulit untuk menjumpainya, dapat diakes dengan kendaraan motor dan mobil. Jalannya dalam keadaan baik dan sudah diaspal. Sekitar 400 m dari Jalan Raya Padang-Bukitinggi dan Pasar Sicincin.

Letak surau ini berada lebih rendah dari jalan utama perkampungan. Sekeliling area surau ini masih asri dan banyak pepohonan sehingga sangat menyegarkan mata.

Bila pernah berkunjung ke Masjid Tuo Kayu Jao, Kabupaten Solok, maka sekilas akan terlihat mirip. Mulai dari arsitektur bangunannya, bentuknya, ada atap gonjong hingga lokasinya berada di bawah jalan perkampungan. Tentunya masih beratap Ijuk. Mungkin yang membedakan ornamen-ornamen yang menjadi ciri khasnya.

Seluruh kerangka suraunya tidak memakai paku sebagai penguat, tetapi hanya menggunakan pasak-pasak yang cukup kuat. Memiliki luas areya bangunan 10 x 10 meter dan ciri khas bentuk gonjong pada bagian tampak depannya.



Terlihat juga ada perpaduan  ukiran Minangkabau dan tulisan Arab. Kemudian tak jauh dari surau terdapat satu bangunan lain untuk tempat wudu dan toilet.

Atapnya terbuat dari ijuk dengan bentuk atap tumpang tiga tingkat yang menerucut tinggi ke atas. Kira-kira ketebalannya lebih dari 2 cm. Dinding surau masih terbuat dari kayu dan sangat terlihat jelas kayu yang digunakan masih baru.

Tangga masuk surau terbuat dari beton dengan motif bangunan tangga zaman Belanda. Kemudian uniknya, kayu yang digunakan sebagai tiang dan tonggak lainnya dalam membangun surau ini menggunakan kayu pilihan, sehingga sulit ditembus oleh paku.


Kabarnya surau ini telah berumur ratusan tahun yang dibangun secara bergotong royong oleh masyarakat setempat. Ada yang menuliskan sudah bediri sejak abad ke-15. Namun, ada juga yang menceritakan tahun 1700-an. 


Surau ini merupakan cagar budaya yang telah di tetapkan oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Batusangkar dengann nomor inventaris 06/BcB-TB/A/13/2007 dan telah dilakukan pemugaran tanpa menghilangkan bentuk aslinya pada tahun 2015 lalu.

Saat ini telah ada masjid baru yang lebih luas dan dapat memampung jemaah dalam jumlah besar sehingga dapat digunakan masyarakat sekitar untuk aktivitas keagamaan. Kabarnya dibangun tahun 1887. Namun, perannya sebagai surau masih tetap digunakan. Tentunya untuk tempat ibadah dan mengaji. Bahkan ketika bulan Ramadan pun masih digunakan untuk salat Tarawih.


Seperti biasa, usai perjelajahan harus diabadikan dulu dengan berswafoto. Meski mengunjunginya ini dalam waktu yang singkat, tapi surau ini telah mengajak saya untuk berpetualangan melewati lorong waktu melihat peradaban Islam yang telah berkembang sedari dulunya di daerah ini.


Dirangkum dari hasil observasi, situs Kabupaten Padang Pariaman, BPCB Batusangkar dan carano.info.
—————————————————————————————————————————————
 ©Hak Cipta Bayu Haryanto. Jika mengkopi-paste tulisan dan foto ini di situs, milis, dan situs jaringan sosial harap tampilkan sumber dan link aslinya secara utuh. Terima kasih.

1 comment:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...