Saturday, September 29, 2018

Kerkhof Sawahlunto Kuburan Belanda dan Kejayaan Kota Tambang Batubara


Sawahlunto merupakan sebuah daerah di Minangkabau yang memiliki sejuta kisah. Terlahir dari  cerita tambang batu bara hingga pernak pernik kehidupan masyarakatnya. Hal ini menarik untuk ditelusuri, jejaknya masih terjaga. Padahal, kota yang sempat dikatakan mati ini, kembali hidup. Menyelami tiap sudut Kota Sawahlunto tidak akan mengecewakan, terlebih para pencinta heritage

Beberapa minggu belakangan ini, cuaca sedang tidak bersahabat. Bentar hujan, bentar cerah. Begitu pula saat berangkat menuju Kota Sawahunto. Dari Kota Padang, saya bersama Rinaldi pergi dengan menggunakan sepeda motor. Menembus rintikan hujan yang tidak berhenti, bahkan kian lebat selama hampir 3 jam perjalanaan.



Kota arang bumi ini menjadi daftar penjelajah saya berikutnya. Ada beberapa tempat yang saya ingin kunjungi, terutama keberadaan pemakaman Belanda. Menarik dan membuat rasa penasaran. Tidak semua kota di Ranah Minang ini yang memiliki jejak pemakaman Belanda. Bahkan di Kota Padang puna sudah lenyap, tergusur oleh pembanguan kota. 

Esoknya, matahari pagi bersama barisan awan yang cukup rendah menyelimuti langit Kota Sawahlunto. Tidak panas dan cukup sejuk. Dari Objek Wisata Puncak Cemara, kami melanjutkan perjalanan ke pemakaman Belanda ini. Selama di sini kami ditemani oleh Pradana Yudha, Duta Wisata dan Ketua GenPi Sawahlunto.

Kerkhof Sawahlunto dan Jejak Orang Belanda di Tanah Emas Hitam


Pemakaman Belanda atau dikenal dengan nama Kerkhoff ini berasal dari dua suku kata, yakni kerk yang bermakna gereja dan hoff merupakan halaman. Kabarnya, sudah menjadi tradisi orang Belanda yang mayoritas beragama Kristen ini menguburkan keluarganya di samping gereja, sehingga lambat laun kata kerkhoff ini menjadi sebutan yang familiar untuk kuburan atau permakaman.

Tempatnya tidak jauh dari pusat kota dan dekat dengan kantor walikota. Tepatnya terletak di Kelurahan Lubang Panjang, Kecamatan Barangin, Kota Sawahlunto. Arahnya sejalan menuju MTSN 1 Sawahlunto. Jika jeli, dari Puncak Cemara terlihat komplek pemakaman Belanda ini. Askes jalannya sangat baik dan cukup untuk satu jalur, dapat dilalui oleh motor, mobil dan bus kecil.

"Nah ini tempatnya, bang!" sebut Yudha kepada kami. Bersamaan dengan itu kita meletakan motor tidak jauh dari pintu masuk pemakaman ini. Maklum tempat parkirnya sangat terbatas.


Tidak ada petunjuk dan semacam gapura. Untuk masuk areal pemakaman akan menaiki beberapa anak tangga. Tidak ada tiket masuknya alias gratis. Terlihat ada satu plang kecil yang bertuliskan informasi tempat ini. Kemudian ada satu bangunan kecil yang luasnya tidak lebih dari 2 x 2 m serta ada semacam prasasti yang berbentuk piramida dengan keramik hitam bertuliskan Cagar Budaya Kuburan Belanda (Kerkhoff) Sawahlunto.

Saat sampai di anak tangga terakhir, saya pun langsung terdiam dan takjub melihat kuburan ini. Agak sedikit aneh, bukannya takut jika bermain ke kuburan, saya malah semakin bersemangat untuk mendekatnya dan melihat satu per satu makamnya.


Nuansa Kerkhoff Sawahlunto ini tidak menunjukan kuburan yang identik dengan hal yang berbau mistis dan angker dengan lingkungan yang penuh pohon besar dan lembab, tapi perlu diketahui kuburan Belanda itu sangat artistik dan fotogenik. Hehehe

Sebelumnya saya sudah mencari referensi mengenai pemakaman Belanda di Minangkabau, tapi tidak banyak yang menceritakan. Semua tertuju ke Kota Sawahlunto. Itupun hanya 1 artikel dan 2 berita yang mengulasnya. Kerkhoff Sawahlunto ini sempat bertebaran di timeline Instagram sekitar tahun 2017 lalu.

Wajah Kerkhoff Sawahlunto dan Seisinya


Kerkhoff Sawahlunto ini bisa dipastikan sebagai kompleks pemakaman Belanda yang masih tersisa dan satu-satunya di Sumatra Barat. Area kawasannya sekitar 7000 m2 dengan jumlahnya sekitar 89 kuburan. Posisi kuburannya ini berada di atas perbukitan, dengan kontur yang tidak rata memanjang dari utara ke selatan, dekat ladang dan pekarangan rumah warga setempat.

Dari tulisan blog Yonni Saputra diceritakan luas keseluruhan sejak awal ditetapkan Belanda sebagai areal khusus peristirahatan terakhir orang-orang Belanda di Sawahlunto atau Eropa lainnya belum diketahui. Sebab sebagian areal dan bangunan makam telah disulap oknum masyarakat untuk kepentingan pendirian bangunan. 

Bahkan menurut keterangan orang-orang lama yang pernah menyaksikan keberadaan areal dan makam Belanda di Sawahlunto, menyebutkan bahwa rumah-rumah penduduk sekitar makam dan termasuk bangunan sekolah Madrasah dulunya merupakan bagian dari kawasan dan bangunan makam.

Melihat area permakaman ini, mengingatkan saya pada Museum Prasasti di Jakarta. Namun, setelah saya jelajahi satu per satu makamnya, sangat disayangkan kondisinya belum sepenuhnya mendapatkan perhatian. Hal ini yang bikin saya sedih. Uh.



Mulai masuk saja sudah terlihat beberapa makam yang mengalami rengkahan pada badan bangunanya. Ada juga plaster dindingnya yang sudah lepas sehingga terlihat susunan batu bata. Ada juga pagar pelindung makam yang terbuat dari rantai besi pun hilang.

Sebenarnya banyak faktor yang menyebabkan rusaknya kuburan Belanda ini, mulai dari kondisi alam sendiri, cuaca yang dapat berpengaruh pada pertumbuhan lumut dan rumput liar di sekitar makam yang dapat merusak konstruksi fisik bangunan.

Tipologi wilayah juga berpengaruh, karena berada diperbuktian, kondisi tanah yang labil dan kabarnya tiap tahun tanah di kota ini selalu mengalami penuruna sehingga banyak makam yang retak-retak dan amblas.

Bahkan yang paling menyedihkannya beberapa prasasti nisan yang terbuat dari batu marmer (batu pualam) hilang dan rusak tidak tahu sebabnya seperti ada unsur kesengajaan. Dari 89 kuburan, hanya ada 12 makam yang prasasti nisannya dapat dibaca.




Umumnya konstruksi bangunan makam terdiri dari susuan batu bata dan beton bertulang yang diplaster rapi. Tiap makan Belanda memiliki bentuk yang berbeda-beda, umumnya terdiri dari batu nisan, kijing atau jirat dan cungkup (rumah bagi jirat) plus ornamen-oranamen seperti patung dan bentuk tempat nisan yang bercorak arsitektur Eropa ini sangat jelas terlihat.

Di Kerkhoff Sawahlunto cukup beragam ada yang lengkap. Ada yang tidak dipagar hingga da yang hanya nisan berbentuk salib saja. Itulah keuniknya yang membuat saya tertarik untuk datang ke tempat yang terbilang jarang dikunjungi ini.

"Dulu, di kuburan ini banyak hiasan patung, tapi sekarang tidak tahu ke mana. Kondisi kuburan saat ini sudah dirawat, dulu banyak semak belukar yang menutupi kuburan sehingga tidak terlihat jika ada makam di tempat ini," jelas Yudha.

Menariknya, dari semua makan yang ada di sini terselip satu kuburan yang nisannya bertuliskan huruf Tiongkok. Bentuk makamnya persegi dan ada pagar dengan rantai besi tapi sudah hilang. Sejarah mencatat, era zaman kolonial, orang Tionghoa yang bermukim di Indonesia ini sangat akrab dengan orang Eropa sehingga dimaklumi jika ada beberapa kuburan dari orang Tionghoa bergabung di kompleks makam Belanda.

Kerkhoff Sawahlunto, Artefak Kolonialime yang Perlu Dibangkitkan



Kerkhoff Sawahlunto menjadi kawasan pemakaman yang telah ditetapkan menjadi situs cagar budaya dengan nomor register 60/BCB-TB/A/06/2007 oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Batusangkar. Kerkhoff Sawahlunto ini juga memiliki nilai historis bagi perjalanan Kota Sawahlunto, karena dapat melihat siapa saja tokoh penting orang kolonial yang pernah tinggal di sini.

Dari Laporan Akhir Studi Teknis Arkeologis Bangunan Kolonial Kota Sawahlunto (2009) menyebutkan kompleks makam Belanda merupakan tinggalan situs dan artefak yang cukup komplek dan mempunyai nilai sejarah serta arkeologis cukup tinggi. Penelitian yang lebih mendalam terhadap tata letak, bentuk, jenis, dan ukuran, serta pola hias akan sangat penting untuk lebih mengungkapkan tentang sejarah makam Belanda tersebut.

Berbagai upaya peletarian telah dilakukan, mulai dari tahun 2009, tahap awal di telah dilakukan pembuatan dam pada titik rawan dimana tanah makam yang terkikis digerus air. Diatas dam berketinggian 2 meter itu kemudian dipasang pagar, agar kondisi kawasan dan makam terjaga dari gangguan hewan ternak atau tindakan masyarakat yang merusak. Seperti ditulis di blog Yonni Saputra.


Dalam pemberitaan kinciakincia.com, di tahun 2016 ini Kantor Permuseuman juga menata kawasan makam dengan berkoordinasi dengan Badan Lingkungan Hidup untuk membuat taman, serta menempatkan petugas pemelihara makam.

Kerkhoff Sawahlunto menjadi sama pentingnya dengan kandungan batu bara. Atefak peninggalan kolonial yang perlu dilestarikan dan dibangkitkan. Setidaknya perlu dilakukan pengecetan kembali makam, pendataan ulang semua makamnya dengan penomoran mulai dari kepemilikan hingga ukuran makamnya.

Pasalnya, menurut Yudha banyak orang Belanda yang datang ke Sawahlunto untuk mencari kuburan keluarganya. Ada yang berjumpa dan ada yang tidak. 

Kerkhoff Sawahlunto Wisata Mistis dan Spot Instagenik


Kerkhoff Sawahlunto merupakan kawasan pemakaman Belanda yang telah berusia lebih dari seratus tahun. Hal ini bisa terlihat dari beberapa nisan yang tertulis. Bentuk dan suasana area pemakaman yang menarik untuk dijelajahi. Tempatnya tidak begitu seram, tidak banyak pohon besar yang memberi kesan angker.

Terdapat jalur pejalan kaki yang terbuat dari beton yang disusun sedemikian rupa mulai dari pintu masuk dekat dengan bangunan petugas penjaga hingga mengitari ke tengah pemakaman dan sampai diujung kawasan Kerkhoff Sawahlunto.


Karena sudah ada di sini, rugi rasanya bila tidak mengabadikan gambar. Senang rasanya bisa berjunjung ke makam Belanda ini. Meski sebentar tapi dapat membangkan kenangan akan kejayaan kota tambang batubara tertua di Indonesia ini.

Kerkhoff Sawahlunto dapat menjadi alternatif bagi para pengunjung yang ingin berwisata mistis berbalut nuansa yang fotogenik. Terpenting jangan terlalu happy dan berkata sembarang. Apapun itu, namanya juga kuburan. Bila berani berfoto di lingkungan makam, disarankan datang pagi jelang siang agar dapat pencahayaan yang baik. Itupun jika cuaca cerah. Hehehee
Kerkhoff Sawahlunto dan untuk mereka yang bersemayam dalam kenangan.
 ————————————————————————————————————————————————————
©Hak Cipta Bayu Haryanto. Jika mengkopi-paste tulisan ini di situs, milis, dan situs jaringan sosial harap tampilkan sumber dan link aslinya secara utuh. Terima kasih.

6 comments:

  1. Keren sih ini bay,, unik.. aku malah baru tahu ada kerkhoff ini.. semoga bisa lebih diperhatikan pemkot sawahlunto ya.. bisa jadi tambahan destinasi kalau ke sawahlunto nih..

    -Traveler Paruh Waktu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ia bg. Ini yang tersisa di Ranah Minang. Tempat nya rekomendasi untuk destinasi yang anti mainstream di Sawahlunto

      Delete
  2. Ngeliat kuburan2nya kok jadi ingat game Resident Evil 4 ya bg? 😅

    ReplyDelete
  3. wew om barra ternyata kenal jg sama ubay?..ternyata padang tu sempit yah..ckckck hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ia kita satu komunitas mas. Ia PAdang memang sempit hehehe
      Salam kenal ya mas

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...