Sunday, November 17, 2019

Candi Padang Roco Situs Cagar Budaya Saksi Kerajaan Melayu Tua di Indonesia

Candi Padang Roco

Wah hujannya kian lebat, sebutku dalam hati. Sedari tadi langit memang sudah mendung. Meskipun begitu tidak menyurutkan perjalanan saya ketika menjelajahi Kabupaten Dharmasraya ini yang pernah manjadi pusat Kerajaan Melayu Tua di Indoensia.

Tidak ada yang banyak tahu soal kisah ini. Jika ditelusuri keberadaannya jejak kerajaan tersebut berlokasi di Kabupaten Dharmasraya. ini. Sekitar 5-6 jam berkendara dari Kota Padang. Cukup jauh memang dan lebih dekat dengan provinsi Jambi dan Riau yang memiliki kaitan juga dengan kerajaan ini.

Candi Padang Roco
Lokasi Panen Ikan Larangan sebelum hujan

Tempo hari, saya dan Mei Hanum mendapat kesempatan untuk melihat langsung salah satu atraksi dari Festival Pamalayu yang tengah berlangsung hingga 7 Januari 2020 mendatang. Atraksi ini Panen Raya Ikan Lubuk Larangan merupakan tradisi dan bentuk kearifan lokal masyarakat Kampung Surau, Nagari Lubuk Selasih. Lokasinya sekitar 15 menit dari kantor bupati.

Festival Pamalayu menjadi pembuka tabir khasanah Kerajaan Melayu Tua di Indonesia. Namanya terinspirasi dari sebuah ekspedisi yang terjadi pada tahun 1286 dari Singosari menuju Kerajaan Melayu Dharmasraya.


Candi Padang Roco
Hasil panen ikal larangan

Dharmasraya menjadi salah satu tujuan penjelajahan saya, karena ada bukit peninggalan sejarah yang sudah lama saya ingin kunjungi. Usai melihat panen raya, perjalanan dilanjutkan ke Jorong Sei Langsek, Nagari Siguntur, Kecamatan Sitiung. Jarak tempuhnya sekitar 20 menit dari kantor bupati.

Tempat yang saya tuju ini adalah Kompleks Candi Padang Roco, salah satu situs Cagar Budaya Indonesia yang bernilai sejarah tinggi dan menjadi saksi kejayanan Kerajaan Swarnabhumi (Melayu Dharmasraya).

Sekali lagi hujan belum juga reda. Kami masih tempuh perjalanan ini. Setibanya di lokasi,hujannya perlahan mulai renda. Bersyukur sekali alam menyambut baik kedatangan kami. Saya dipandu oleh Arjuna Nusantara. Ia pemuda asli Dharmaraya yang menemani saya bersama Mei Hanum dan tim Media Kumparan.

Candi Padang Roco
Perjalanan menuju Candi Padang Roco sebelum hujan

Candi Padang Roco menjadi salah satu situ cagar budaya peninggalan kerajaan Budha di pulau Sumatra yang posisinya berada di hulu Sungai Batang Hari. Keberadaan candinya tidak sendiri, tapi satu kawasan percandian yang cukup luas.

Para arkeolog pun mengakui situs ini sebagai bukti adanya Kerajaan Melayu Dharmasraya sejak abad ke-13. Kabupaten Dharmasraya ini pernah menjadi lokasi pusat pemerintahan dan ibukota kerajaan melayu tua yang ditunjukan dengan adanya kompleks percandian sebagai sarana ibadah.

Menyusuri Candi Padang Roco Sebagai Pusat Kerajaan Melayu Tua  

Candi Padang Roco

Menurut penjelasan Arjuna kawasan candi ini lebih dari 10 Ha dibuktikan dengan adanya parit mengelilingi kawasan situs tersebut. Namun, terdapat tiga candi dalam kawasan ini yang sudah dieskavasi dengan luas area yang sudah dilindungi sekitar 4.475 m2.

Candi ini bisa disebut dengan nama Candi Padang Roco I, Candi Padang Roco II dan Candi Padang Roco III. Uniknya, seluruh bangunan candi ini terbuat dari batu bata merah dan berbeda dengan bentuk dan strukturnya dengan candi di pulau Jawa yang berbahan batu andesit. Denahnya pun hampir serupa berbentuk bujur sangkar.

Candi Padang Roco
Suasana Candi Padang Roco I
Kami mulai berjalan melihat bangunan yang pertama, Candi Padang Roco I sebagai candi induk yang ada di kompleks ini karena memang yang paing luas. Saya sangat tajub sekali. Candinya berukuran 21 m x 21 m, dengan tinggi bangunan tersisa 0,9 m.

Kata Arjuna, candi ini memiliki 4 arah mata angin yang menujukan pusat untuk beribadah. Adapun struktur pondasi bangunan candi berupa campuran antara kerikil, kerakal dan batu pasir dengan ketebalan 80 cm dari lapis bata terbawah. Bagian bangunan yang masih asli berada di bagian kaki candi yang terdiri dari 26 lapis bata di sisi timur laut dan 22 lapis bata di sisi barat laut.

Candi Padang Roco
Suasana Candi Padang Roco II
Beranjak ke Candi Padang Roco II yang merupakan candi perwara dari Candi Padang Roco I. Berukuran 4,40 m x 4,40 m dengan tinggi yang tersisa 1,28 m. Bangunan candi berorientasi ke barat daya–timur laut dengan pintu masuk dan tangga yang menjadi arah hadap di sisi barat.

Terakhir Candi Padang Roco III, bentuknya sedikit memanjang pada arah barat daya-timur laut. Candi ini terdiri atas dua bangunan. Bangunan pertama merupakan candi dengan denah bujursangkar berukuran 8,50 x 8,50 m. Bangunan kedua adalah maṇḍapa dengan ukuran 13,50 x 8,50 m dan berdenah empat persegi panjang.

Candi Padang Roco
Suasana Candi Padang Roco III
 Kedua bagian dari Candi Padangroco III tampak seolah menyatu berukuran 22 x 8,50 m. Seharusnya terdapat sisa tangga atau pintu di sisi baratdaya kedua bangunan tersebut. Namun, tidak dapat ditemukan. Candi ini merupakan candi perwara juga sama seperti Candi Padang Roco II. seperti ditulis Djafar Hasan dalam buku Candi  Indonesia Seri Sumatera, Kalimantan, Bali, Sumbawa Tahun 2014.

Area percandian ini tidak jauh dari perkebunan dan sawah masyarakat. Tempatnya sangat luas dan asri. Tersedia toilet dan tempat parkir kendaraan yang representatif. Akses jalannya sangat mulus dan mudah dijumpai.

Jejak Lainnya Kerjaan Melayu Dharmasraya.

Candi Padang Roco
Prasasti Amoghapasa dan ArcaAmoghapasa

Selain candi dijumpai juga berbagai macam artefak penting yang menujukan penggalan narasi Kerajaan Melayu Dharmasraya seperti Prasasti Padang Roco yang ditemukan tahun 1911. Prasasti ini merupakan sebuah lapik (alas) dari Arca Amoghapāśa.

Ada Prasasti Amoghapasa merupakan tulisan pada bagian belakang Arca Amoghapāśa yang memiliki tinggi 163 cm, lebar 97-139 cm, dan berbahan batu andesit. Ditemukan tahun 1880-an. Arca Amoghapāśa dibawa saat Ekspedisi Pamalayu sebagai hadiah dari Raja Singosari Kertanegara kepada Raja Malayu Mauliwarmadewa di Melayu Dharmasraya.

Candi Padang Roco
Bagian atas Archa Bhirawa
Candi Padang Roco
Bagian bawah Archa Bhirawa

Ada lagi yang fenomenal, Arca Bhairawa merupakan patung batu andesit dengan tinggi 4,41 m dan berat 4 ton yang merupakan perwujudan dari Raja Adityawarman. Pemerintah Hindia Belanda membawanya ke Kebun Margasatwa Bukittinggi pada tahun 1935.

Sejak tahun 1937 hingga sekarang berada di Museum Nasional Indonesia di Jakarta. Termasuk kedua prasasti tadi. Saya sendiri sudah melihat bentuk arca dan prasastinya waktu SMP dan ada juga replika Arca Bhairawa di Museum Adityawarman di Padang.

Candi Padang Roco
Archa Bhirawa saat ditemukan di kawasan Candi Padang Roco tahun 1935

Pelestarain Candi Padang Roco Upaya Menyelamatkan Cagar Budaya Indoensia

Candi Padang Roco
Tim Media Kumparan saat berkunjung ke Candi Padang Roco
Laporan dari Balai Pelestarian Cagar Budaya Sumatra Barat menyebutkan keberadaan Candi Padang Roco ini berawal dari informasi hasil penelitian kepurbakalaan di aliran Sungai Batanghari oleh Verkerk Pistorius pada tahun 1860-an. Pada 1909 L.C. Westenenk menemukan gundukan bangunan candi saat survei dan melakukan pemetaan di daerah serupa. Gundukan itu oleh penduduk setempat disebut munggu.

Dari hasil temuan ini diteliti kembali oleh F.M. Schnitger pada tahun 1935 dan hasilnya dilaporkan dalam bukunya yang berjudul The Archaeology of Hindoo Sumatra (1937). Selanjutnya penelitian dilakukan oleh Pusat Penelitian Arkeologi Nasional tahun 1991, Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala (SPSP) Provinsi Sumatra Barat dan Riau tahun 1992.

Candi Padang Roco
Candi Padang Roco I saat proses pemugaran
Perjalanan panjang dari penemuan dan penelitian Candi Padang Roco ini, telah sedikit terkuak eksistensi Kerajaan Melayu Dharmasyara yang harus terus diungkapkan. Ibarat puzzle, tiap potongannya harus dicari dan digabungkan.

Upaya pelestarian ini terus dilakukan oleh Balai Pelestarian Cagari Budaya (dulu Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala) dengan melakukan pemugaran dan penelitian sejak tahun 1995-1999 dan tahun 2002-2004. Saat ini Candi Padang Roco telah masuk situs cagar budaya dengan nomor inventaris 01/BCB-TB/A/18/2007. Artinya harus terus dirawat. Jangan sampai hilang terkubur kembali termakan zaman.

Candi Padang Roco
Candi Padang Roco I yang telah melewati serangkaian pemugaran

Meski dibatasi oleh waktu karena harus pulang ke Padang. Saya sangat senang bisa jadi bagian "merayakan Dharmasraya”. Terlebih bisa bertandang ke situs cagar budayanya. Melalui Festival Pamalayu ini mendorong masyarakat untuk ikut melestarikan, menjaga dan mengenalkan berbagai macam peninggalan peradaban masa lalu Dharmasraya serta memetik sari dari berbagai nilai kearifannya.

Dari Candi Padang Roco ini bukan sekedar tinggalan purbakala yang kuno. Namun, jauh lebih dari ini memiliki potensi ekonomi yang harus segera disiapkan. Dalam perkembangannya Candi Padang Roco harus menjadi salah satu desitnasi wisata heritage dunia yang wajib dikunjungi oleh masyarakat. Dukungan, partisipasi berbagai kalangan terutama masyarakat sekitar lokasi menjadi modalnya, di samping pemerintah terkait juga untuk melengkapi sarana prasaran pendukung lainnya.

Pesonanya tidak akan berkilau, jika peradaban masa lalunya tidak diungkap kembali dan dibagikan kepada kami generasi muda. Dengan berkunjung ke situs Candi Padang Roco ini dan posting keberbagai platform media sosial sudah turut merawat narasi Kerajaan Melayu Dharmasraya sebagai bagian peradaban Cagar Budaya Indonesia. Tetap menjaga kebersihan dan tertib saat berkunjung ya.
 
Satu kata untuk Dharmasraya, Amazing!

Nah, mari bagikan informasi mengenai cagar budaya yang ada disekitar kita dan ikuti Kompetisi Blog Cagar Budaya Indonesia dengan tema "Rawa atau Musnah". Informasinya dapat lihat situs kebudayaan.kemendikbud.go.id, Instagram @cagarbudayadanmuseum dan @ibuibudoyanmenulis Jangan sampai ketinggalan ya!
 
———————————————————————————————————————————————
©Hak Cipta Bayu Haryanto. Jika mengkopi-paste tulisan dan foto ini di situs, milis, dan situs jaringan sosial harap tampilkan sumber dan link aslinya secara utuh. Terima kasih.

Monday, November 11, 2019

Menghidupkan Kembali Balai Kota Padang Lama (Gemeente Padang)

Gemeente Padang dan Balai Kota Padang Lama
Gedung Balai Kota Lama Padang (Gemeentehuis Padang) Tahun 2019

Gedung Balai Kota Lama Padang (Gemeentehuis Padang) menjadi satu-satunya bangunan megah penginggalan pemerintah Hindia Belanda yang masih dapat dinikmati di tengah hiruk pikuk masyarakat yang tengah berbelanja di Pasar Raya Padang.

Tuesday, November 5, 2019

Danone Open Doors: Intip Pabrik AQUA Solok dan Nikmati Segarnya

Danone Open Doors AQUA Solok

AQUA sebagai salah satu perusahaan air minum terpopuler di Indonesia, sudah lama membumi. Ia telah memberikan banyak perhatian terhadap kelestarian lingkungan hidup serta peningkatan kesejahteraan masyarakat. Baik itu proses produksi hingga memberdayakan masyarakat melalui program-programnya.

Sunday, September 22, 2019

Melawan Hoax dan Bijak di Era Digital


Sebuah pesan masuk ke dalam grup WhatsApp (WAG). Seketika grup yang biasanya hening menjadi ramai. Ternyata ada pesan berantai yang menjadi pemicu perdebatan. Hal ini terkadang sering terjadi. Tanpa disadari, ada yang percaya dan ada yang mencoba menjelaskannya. Isinya pesannya kira-kira seperti ini:

Monday, September 16, 2019

Nikmati Musim Asap dan Kenali Kedatangannya


Negeri yang tertutup asap. Bisa dibilang seperti itu. Ada anekdot yang berkembang, jika Indonesia terdiri dari dua musim saja, tapi tidak bagi pulau Sumatra dan Kalimantan. Di daerah ini tambah satu musim lagi jadi ada tiga yaitu musim penghujan, musim kemarau dan musim asap.

Monday, September 2, 2019

Kopi, Bercakap, dan Silaturahmi

Kedai Kopi di Padang

Malam itu, kegambutan tidak bisa ditahan. Biasanya sih ada dua pilihan, mager di kamar atau cari angin ke luar rumah. Terkadang untuk mengusir rasa bosan, media sosial menjadi pelariannya. Seolah menjadi penyelamat dalam berbagai suasana. Bagiku seperti itu.

Wednesday, August 7, 2019

7 Tempat di Padang yang Menjadi Kenangan


Padang sebagai kota besar di pesisir pantai barat Sumatra, tentunya akan banyak menyimpan cerita dan jejak sejarah yang terkadang luput oleh masyarakatnya tersendiri. Perkembangan kotanya, bisa dibilang tidak secepat dari kota tetangganya. Tak bisa dipungkiri juga pasca gempa 30 September 2009 memberi dampak yang cukup besar bagi pembangunan kota ini.

Friday, July 19, 2019

Ayo ke Museum Rumah Kelahiran Bagindo Aziz Chan


Rumah Kelahiran Bagindo Aziz Chan telah resmi menjadi museum pertama yang dimiliki oleh Kota Padang. Tinggalan sejarah di kota ini sangat banyak dan menarik untuk diulik. Namun, nyatanya banyak juga masyarakat yang tak tertarik, bahkan tidak peduli. Bukitnya, masih saja menganggap itu kuno, kudet dan tidak kekinian.

Monday, July 15, 2019

Yuk Kembangkan Bisnis Bersama Gapura Digital Padang


Semula aku tidak kenal dengan namanya Gapura Digital. Meski sebenernya tidak asing namanya. Gapura Digital berkembang di berbagai kota besar di Indonesia, setidaknya kini hadir di 14 kota, termasuk di Kota Padang. Alhamdulillah, beruntung sekali saya dikenalkan dengan Gapura Digital. Perkenalan pertama ini melalui abang Doni, ketika itu ia japri saya dan mengajak untuk mengikuti pelatihannya.

Saturday, July 6, 2019

Pasar Tanah Kongsi Padang Sensasi Belanja Sembari Wisata Kuliner

Pasar Tanah Kongsi Padang

Pasar Tanah Kongsi tidak begitu familiar di antara kaum milenial, mereka terbiasa dengan Pasar Raya atau sekelas Plaza. Pasar Tanah Kongsi adalah salah satu pasar tertua di Kota Padang. Pasar ini tetap bertahan, meskipun berjalan secara pelan dengan kearifannya dan kesederhaannya.

Letaknya di kawasan chinesetown-nya Padang, Kelurahan Kampung Pondok, Kecamatan Padang Barat, Kota Padang, Sumatra Barat. Pasar Tanah Kongsi ini tidak terlalu luas, kira-kira 5793,48 m2 atau sekitar 0,57 Ha.

Tuesday, July 2, 2019

Pinyaram Si Manis Menggoda dari Minangkabau

Pinyaram

Pinyaram, nama penganan ini tidak asing bagi masyarakat Sumatra Barat. Pinyaram merupakan salah satu kuliner tradisional khas Minangkabau berjenis kue. Jika diperhatikan, sekilas memang menyerupai kue Cucur. Namun, tentunya terdapat perbedaannya.

Keberadaan kuliner tradisional ini masih eksis dan tidak lekang dimakan zaman. Peminatnya pun tidak sedikit, mencobanya bikin ketagihan. Bagaimanapun kuliner di Ranah Minang itu dijamin enak, termasuk Pinyaram ini.

Friday, June 21, 2019

Kota Tua Padang Harta Karun Pariwisata Masa Depan?

Kota Tua Padang

Belakangan geliat pariwisata di Kota Padang semakin menjadi-jadi. Buah hasilnya dapat dilihat di kawasan Pantai Padang, Gunuang Padang, dan perlahan menuju Pantai Aie Manih. Ini merupakan objek wisata unggulan yang masuk ke dalam Kawasan Wisata Terpadu (KWT) Gunuang Padang. Namun, ada satu tempat yang tertinggal yaitu Kota TuaPadang atau Padang Lama.

Tuesday, June 4, 2019

Pantai Tiram Pesona Gulai Kapalo Lauk dan Sensasi Menangkap Sang Fajar

Pantai Tiram

Pantai Tiram atau Pantai Tiram Tapakis mempunyai pesonanya tersendiri. Keberadaannya menjadi pengungkit ekonomi masyarakat sekitar. Tentu setelah menjadi daerah tujuan wisata, seperti yang dapat dirasakan saat ini.

Seperti biasa, tidak direncanakan sebelumnya. Saya terniat sekali untuk mengunjungi Pantai Tiram. Itu pun subuh-subuh saya berangkat dari rumah.

Memang berkunjung ke objek wisata pantai tidak banyak yang menjadi pembeda dari pantai lainya. Ada pasir pantai, deburan ombak hingga pohon khas pesisir pantai. Plus kenangan, eh!

Sunday, May 26, 2019

Ayo Berburu 10 Kuliner Khas Pariaman

Kuliner Khas Pariaman

Kota Pariaman sebagai salah satu tujuan destinasi wisata di Ranah Minang memiliki pesonanya tersendiri. Terkenal dengan destinasi baharinya yang beragam atraksi, wahana, dan sajian kuliner yang membuat rasa penasaran. Tentunya tidak jauh sea food juga.

Apabila berwisata ke Kota Pariaman jangan lupa menikmati kulinernya yang khas. Berikut ini saya uraikan, barangkali nantinya dapat menjadi rekomendasi.

Saturday, May 11, 2019

Kue Mangkuak Sayak, Jajanan Jadul Citarasa Minangkabau


Kue Mangkuak menjadi penganan yang keberadaannya tidak begitu mudah untuk dijumpai. Entah ada angin apa, saya terniat ingin sekali mencari Kue Mangkuak di Kota Padang ini. Bertepatan dengan akhir pekan saya mencoba menjelajahi wisata kuliner tradisional ini.

Wednesday, May 8, 2019

Pasta Kangen Padang, Coba Makanan Barat Bisa Bikin Baper, Kenapa?


Pasta Kangen, nama yang menarik untuk sebuah tempat makan. Sepertinya tidak begitu namanya lazim terdengar dan cukup memoriable bagi pengunjungnya. Konsep yang ditawarkan berbau anak milenial, penuh warna dan dengan dekorasi ruang yang instagrammble sekali.

Tuesday, May 7, 2019

Puncak Lawang Serasa di Negeri 4 Musim

Puncak Lawang

Dalam kondisi terkantuk-kantuk kami tiba di kediaman Mulazmi. Ia belum mandi dan terlihat masih dengan wajah bantalnya. Segelas teh hangat bersama jagung goreng menemani pagi kami. Perjalanan kali ini akan menjelajahi Puncak Lawang yang terbilang unik. Mengapa? Mari ikuti perjalanan kami.

“Ayo berangkat, nanti cari sarapan dulu lah. Dari Padang belom makan pagi nih” ajak saya kepada mereka.

Monday, May 6, 2019

Manisnya Saka Lawang, Nagari Penghasil Gula Tebu Tradisional di Ranah Minang

Gula Tebu Lawang

Sempat terpikir, gula merah yang selama ini dikonsumsi, bisa jadi berasal dari Lawang. Daerah ini disebut-sebut penghasil industri gula merah. Lajur kendaraan ini sedang menurun dan kami berhenti sejenak di sebuah kedai untuk mengisi bahan bakar motor. 

“Uni, pembuatan gula tebu yang pake kerbau masih ada nggak? Jauh nggak tempatnya? Tanya saya bak peluru kepada gadis di kedai itu.

Monday, April 1, 2019

Menanti Senja di Pantai Nirwana Padang Ada Kenangan dan Kamu

Pantai Nirwana Padang

Pantai Nirwana? Hmm... Entah, pikiran apa yang mengantarkan langkah ini. Semuanya sangat tiba-tiba. Terbesit seketika dan langsung pergi. Langit cerah dan waktu sore memang kombinasi yang pas untuk bertandang ke pantai.

Tuesday, March 12, 2019

Macam-Macam Kuliner Khas Bukittinggi Nan Lamak Bana


Bukittinggi menjadi salah satu kota di Ranah Minang yang sering dipadati para pelancong. Udaranya yang sejuk ini membuat suasana kotanya begitu nyaman untuk berkeliling dengan jalan kaki. Terlebih semua destinansinya saling berdekatan dan itupun berada di pusat kota seperti Jam Gadang, Kebun Binatang, Lubang Jepang, Ngarai Sianok hingga kulineran di Pasa Ateh.

Wednesday, February 20, 2019

Puncak Gagoan Antara Keindahan Alam dan Uji Adrenalin


Puncak Gagoan menyibak panorama alam yang memanjakan mata, tapi cukup memacu adrenalin. Rasa penasaran menyita perhatian banyak kalangan yang ingin membuktikannya. Bagi generasi milenial, tempat ini sangat menarik dan cukup instagenik.

Tuesday, February 12, 2019

4 Monumen Bersejarah yang Hilang di Kota Padang

4 Monumen Bersejarah yang Hilang di Kota Padang

Kota Padang lahir dengan cerita yang panjang. Menyimpan kisah yang larut dan dapat dijumpai saat ini. Kota bandar yang maju dan berkembang pesat kala itu. Silih bergantinya waktu, Batang Arau dan sekelilingnya menjadi saksinya. Tapak mula lahirnya Kota Padang. Ada jejak yang harus dijemput. Kota Tua Padang dengan cerita yang menyertainya.

Wednesday, January 23, 2019

Mandeh, The Paradise of the South in Minangkabau


Mandeh telah mencuri banyak perhatian para traveller. Sebuah kawasan wisata bahari yang sedang naik pamor ini memiliki sejuta pesona. Dengan luas kawasan sekitar 18000 Ha ini terletak di Kecamatan Koto XI Tarusan, Kabupaten Pesisir Selatan, dan sebagian wilayah Kota Padang.

Kawasan Mandeh merupakan perpaduan perbukitan yang alami dengan keindahan teluk yang dihiasi dengan gugusan pulau-pulau kecil yang berada di bagian tengah Teluk Carocok Tarusan seolah membentuk menyerupai danau laut. Ditambah dengan pesona bawah lautnya yang kaya akan biota laut dan hutan mangrove serta berbagai potensi peninggalan bersejarahnya.

Saturday, January 19, 2019

Puncak Mandeh Panorama Pesisir Pantai Nan Menawan Bak Raja Ampat


Puncak Mandeh menjadi destinasi yang wajib dikunjungi para pelancong saat berlibur ke Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatra Barat. Tempat ini sebenarnya berada di salah satu sudut bukit jalan lingkar Sungai Pisang-Tarusan yang menyajikan view alam yang kece.

Thursday, January 3, 2019

Pantai Muaro Bantiang dengan Pesona Barisan Pohon yang Instagenik


Kabupaten Pesisir Selatan kaya akan keindahan baharinya. Gugus pulau dan pantainya yang cantik terkadang membuat siapa saja yang berkunjung akan takjub. Ada satu tempat yang bisa menjadi pilihan untuk menikmati akhir pekan atau sekedar "mager-an" di alam. Pantai Muaro Bantiang namanya.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...