Monday, September 2, 2019

Kopi, Bercakap, dan Silaturahmi

Kedai Kopi di Padang

Malam itu, kegambutan tidak bisa ditahan. Biasanya sih ada dua pilihan, mager di kamar atau cari angin ke luar rumah. Terkadang untuk mengusir rasa bosan, media sosial menjadi pelariannya. Seolah menjadi penyelamat dalam berbagai suasana. Bagiku seperti itu.

Seorang teman dekat mengajak untuk ngopi. Tanpa berpikir panjang aku langsung menjawabnya.

"Bay, lagi di mana? Pegi ngopi yuk?" tulisnya via pesan WhatsApp.

"Biasa di rumah. Oke, kita ngopi di tempat biasa ya," balasku.

Kopi, bila mendengarnya identik sekali dengan minuman yang berwarna gelap dan memiliki rasa yang pahit. Sebab pahitnya itu menjadi pemikat bagi sebagian orang. Setidaknya, jika lagi sedih atau kalut, jangan menyepi deh. Mari berjumpa dan bercakap sembari ngopi. Ya, kalo dalam bahasa Minangnya maota lamak gitu.

Sekelumit Pahitnya Kopi di Minangkabau dan Pernah Harum pada Zamannya


Kedai Kopi di Padang
Suasana aktviitas perempuan Minangkabau yang sedang mengumpulkan biji kopi sekitar tahun 1920 (Sumbe: KITLV)
Semerbak aroma kopi menyeruak dalam ruangan ini. Kedai kopi ini menyajikan proses pembuatan kopi secara manual dengan alat-alat yang canggih. Dalam kurun waktu tertentu, jadilah secangkir kopi yang dihidangkan di mejaku. Minumannya sudah tersedia, saatnya maota atau istilah kekiniannya bergunjing hahaha

Belakangan kedai kopi atau warung kopi seakan menjadi lebih berkelas. Namanya lebih keren dipanggil dengan nama coffee shop. Fenomena ini terasa sekali di kota-kota besar dan mulai mengikuti ke daerah sekitarnya. Misalnya saja di Padang. Perkembangan kedai kopi tidak bisa dihindari lagi, bak cendawan di musim hujan. Hampir tiap sudut kota ini ada, baik skala kafe atau dijual di kaki lima dengan box khusus.

Hadirnya kopi di Indonesia sudah ada sejak abad ke-17 saat VOC tiba dan menyebar hingga ke seluruh tanah air. Di Sumatra Barat, keberadaan kopi tidak lepas juga dari pesatnya lalu lintas perdaganan di kawasan pesisir pantai barat Sumatra yang bepusat di Padang. Terlebih ketika cultuurstelsel (tanam paksa) kopi di zaman Kolonial Hindia Belanda yang digagas oleh A.V Michiels pada tahun 1847.

Kedai Kopi di Padang
Suasana masyarakat Minangkabau sedang membuat kopi daun kawa. (Sumber Tropen Museum)
Tempo itu, masyarakat diwajibkan menanam sejumlah kopi dan hasilnya wajib diserahkan ke Belanda. Cultuurstelsel sukses dilakukan dan komoditas kopi asal pedalaman Minangkabau menjadi primadona. Lumbung kopinya berasal dari Kabupaten Limapuluhkota, Agam dan Tanah Datar. Sayangnya tidak bertahan lama dan dihentikan pada tahun 1908.

Kemudian muncul belasting kopi yang berujung dengan perang pajak manambah pahit jejak perjalanan kopi di Ranah Minang. Kabarnya, dampaknya itu muncul menu kopi khas Minangkabau yang bernama Kopi Daun Kawa. Daerah yang mempopulerkannya di Kabupaten Tanah Datar.

Minuman ini diseduh dari proses memenyangrai daun kopi sebagai pengganti biji kopi. Meskipun tidak ada literatur yang menceritakan kaitan asal muasal minuman ini dengan hadirnya tanam paksa dan perang pajak di Minangkabau.  Aku sudah mencoba minuman ini rasanya gimana gitu. Dinikmati menggunakan batok tempurung kelapa yang ditemani sepotong pisang goreng dan sebungkus ketan putih.

Jejak kebun kopi kolonial di Minangkabau tidak banyak dijumpai lagi. Kebun kopi yang masih eksis saat ini berasal dari Kabupaten Solok, Solok Selatan, Tanah Datar, Limapuluhkota, dan Pasaman.

Kopi dan Pesan yang Terselip


Kedai Kopi di Padang

Kopi, bagiku buka saja soal citarasa, tapi memberi makna yang mendalam dan memberi ruang. Sejak Februari 2019, lidah saya mulai terbiasa dengan pahitnya kopi. Awal mulanya karena mencicipi kopi di Excelso di Axana Hotel, ada taste yang berbeda dan seolah menjadi candu hingga saat ini.

Maklum, aku menyukai turunan kopi yang didominasi rasa manis seperti cappucino. Itu pun dari sachet.  Dulu, mengunjungi kedai kopi pun jarang, bisa dikatakan tidak pernah.  Dalam perjalannya, aku memiliki ketertarikan dengan kopi dan kedainya. Aku suka mencari tempat ngopi atau tidak sengaja diajak teman ngopi. Aku suka latte. Terpenting mengurangi kadar gulanya. Rasa pahit kopi dan susunya menjadi kombinasi yang menggiurkan bagiku. Suka juga kopi susu dan espresso.

Mungkin kesan pertama dari tempatnya yang menjadi alasan utama orang selalu tiba, terlepas dari menu kopinya. Zaman now ini, tempat yang ikonik ini menjadi nilai jual, istilahnya instagrammble gitu. Fenomena kedai kopi tidak lepas juga dari munculnya film Filosofi Kopi. Seolah menjadi penyemangat melahirkan kreativitas dari kedai kopi dengan berbagai macam rupa dan nama yang menjadi memikatnya. Kedai kopi itu bisa menjadi identitas, ada pesan yang akan disampaikannya kepada setiap penikmat kopinya.

Kopi dan Ngopi di Kedai Kopi Hits Padang


Kedai Kopi di Padang
Ngopi mendadak bersama Blogger Palanta di Kopi Janji Jiawa Batang Arau
Kedai kopi di Padang beragam jenisnya, ada yang kedai kopi di kampung-kampung, kedai kopi jadul sejak zaman kolonial hingga kedai kopi yang hits dan kekinian. Aku memiliki pilihan tersendiri. Semisalnya kedai kopi tertua di Padang ada Warung Kopi Nan Yo sudah sejak 1930. Menu favoritnya kopi hitam, kopi susu, dan es kopi. Dapat dikunjungi di Jl. Niaga 205.

Aku juga sering duduk di VCoffee. Alamatnya di Jl. Raden Saleh No. 3. Kedai kopi ini lahir memberikan nuansa yang berbeda, seoalah berada di rumah sendiri dan menjadi media untuk berkreasi anak muda. Tempatnya acap kali menjadi pilihan lokasi diskusi dan nongkrong, selalu ramai

Menariknya tempat ini merupakan salah satu bangunan bergaya kolonial bertipe jungki. Arsitektur bangunannya yang bernuansa vintege ini dapat menjadi spot menarik untuk berfoto. Aku suka itu. Menunya kopinya beragam dan mengangkat nilai-nilai berbau lokal. Ada live acoustik. Suka buat event menarik.

Cafe Marjer menjadi the best menu makanan yang ada di kedai kopi di Padang. Enak dan berkelas menunya. Ada beragam menu kopinya. Kedai kopi yang rekomendasi deh. Tata letaknya asik, coffee bar-nya di tengah mengelilingi meja pengunjung. Tempatnya tenang, nyaman untuk bersantai dan ngongkrong bersama teman. Berlokasi di Jalan Ujung Gurun No.88 A.

Kedai Kopi di Padang
Ngopi bareng di Suko Kopi Padang
Ada Suko Kopi Padang, beralamat di Jl. Jati 1 No.1. Kedai ini memberikan rasa nyaman tersendiri bagi saya. Homie banget. Aneka properti yang menghiasinya menjadi warna tersendiri. Terlebih quote yang diciptakannya berkesan sekali seperti ga ada istilah mantan kopi, tapi masih bisa ngajak mantan ngopi, asal single origin. Ya, basuo bakumpa bakawan di Suko Kopi. Sembari ngopi, sembari nugas, dan sembari cerita. Saya suka pesan es suko kopi.

Kedai Kopi di Padang

Sebenarnya tidak begitu jauh dari rumah ada kedai kopi yang menjadi tempat favoritku bernama Dua Pintu Kopi. Bermula mencicipi kopinya, karena penasaran melihat tampilan kedainya. Tempatnya tenang dan asik untuk mengerjakan tugas atau diskusi dengan jumlah orang yang sedikit. Aku suka minum latte dan cappucino. Tersedia menu makanan, nasi gorengnya enak juga. Ramah untuk kantong mahasiswa. Dapat dijumpai di Jl. Dr. M. Hatta No.2 Pasar Ambang.

Kopi, jika dibuat dengan benar bisa memberikan segudang kebaikan untuk tubuh. Satu kopi, satu tulisan dan sejuta gibahan - Dua Pintu, tulisanku yang di-post di Twitter.

Terkadang juga nongkrong di Bacarito Kopi. Coffee shop ini mengambil historis nongkorng ala Minangkabau. Bercerita layaknya di lapau atau kedai yang dikemas sedemikian rupa sehingga menarik bagi generasi milenial. Termasuk kedai yang hits di Padang loh, karena menjadi tempat ngokrong favorit kaula muda. Menu favorit saya es kopi susu. Ada roti bakar dan indomie juga.

Mau diskusi, mau nongkrong atau duduk sendirian pun asik. Seperti pantun yang tertera didinding tempat ini: Dari sabang sampai merauke. Naik kereta api ke Sawahlunto. Ke Padang belom oke. Kalau belum ngopi sambia bacarito. Yaps, mari bertemu di Bacarito Kopi di Jl. Nipah No.3C.

Kedai Kopi di Padang

Kopi Janji Jiwa, minuman kopi hits yang hampir tersebar di penjuru nusantara, kini hadir di Padang. Dengan konsep bisnis waralabanya ini menjadi banyak peminatnya sehingga banyak juga cabangnya. Sudah ada 3 lokasi di Padang, yakni Batang Arau, Plaza Andalas dan Marapalam. Itu per tahun 2019.

Aku sempat menilai Janji Jiwa ini sebelas tiga belas dengan Starbuck (agak ngasal sih). Konsepnya sangat putiis sekali, memiliki makna yang mendalam. Bisa tergambar dari logo brandnya. Soalnya mainnya sama perasaan terus, eh. Ada beragam minuman jenis kopi dan bukan kopi. Kesukaanku es susu matcha, es kopi pokat dan es kopi susu.

Sebuah cerita tentang jiwa. Menepati janji secangkir kopi - Kopi Janji Jiwa.

Kedai kopi terakhir disematkan pada Laranja Garden. Bagi sebagian orang tempat ini cukup asing terdengar. Secara, lokasinya ini tidak berada di pusat kota. Mereka menyebutnya Padang bagian atas. Tepatnya di Kompleks Perumahan Cimpago Permai 2 Blok B No. 2, Kapalo Koto, Pauh, Padang.

Kedai kopi ini memadukan nuansa taman dengan secangkir kopi yang tentunya asik untuk bersantuy. Bisa di bilang kedai ini hidden coffee paradise  di Padang, seperti yang tersemat dalam tagline-nya.  Ada kopi susu bulan dan bintang kopi susu. Sudah pernah coba?

Ini kedai kopi asik menurutku. Untuk harga dan fasilitasnya akan diceritakan dengan narasi yang berbeda. Soal kopi memang soal selera. Siapa pun punya preferensi tersendiri untuk menilainya. Aku dengan caraku dan kamu tentunya dengan tipemu. Tidak bisa memaksakan harus sama dengan orang lain. Jangan diperdebatkan atuh, terpenting datang, coba sendiri kopinya, dan nikmati suasananya. Skuy ngopi santuy.

Kopi dan Teman Bercakap

Kedai Kopi di Padang
Ngopi bareng Mata Ponsel Sumbar di Rimbun Coffee

Setengah cangkir latte ini masih tersisa, sementara kami masih asik bercerita. Jika ditulis mungkin sudah banyak halamannya. Kopi menjadi media yang baik untuk berjumpa dengan siapa saja. Kopi menjadi teman yang baik untuk bercakap.

Kedai kopi seolah menjadi perantara bagi mereka para penikmatnya. Ketika ngopi menjadi gaya hidup, maka diibaratkan nikotin yang membuat candu, kafein dalam kopi pun begitu.

Kedai kopi yang nyaman menjadi pilihan banyak orang. Aku sendiri menjadikan kopi untuk teman bercerita.

"Tar malam ngopi yuk"

"Nongkrong yuk di xxx kopi "

Kedai Kopi di Padang
Ngopi di Kedai Kaka
Kiranya begitu ajakanku bila ingin ngopi. Terkadang ke kedai kopi hanya untuk mendengarkan curhatan, keluh kesah dan tentunya untuk nongki-nongki. Belakangan munculnya kedai kopi ini dipercantim dengan interior dan desain kece sehingga menjadi daya tarik tersendiri untuk datang.

Kedai kopi jadi spot untuk membuat konten yang epik, baik secara fotografi dan videografi. Apalagi jika tempatnya banyak menggelar acara yang kekinian dan ada live music. Ada pergeseran lokasi tempat berkumpul, kedai kopi bisa menjadi pilihannya.

Kopi dan Merajut Silaturahmi

Ngopi bersama Trip Dadakan di Suko Kopi Padang
Memaknai kopi tidak saja dari setiap rasa pahitnya, tapi ada ambiance yang dibangunnya. Secara perlahan, bak untaian benang, kopi telah merajut tali tilaturahmi. Bagi siapa saja yang membangunnya, kedai kopi menciptakan kekuatan tersendiri. Ada pertemuan yang tidak terduga, ada pertengkarang yang tidak sengaja dan ada perpisahan yang tidak diharapkan. Kok jadi berat begitu ya? Hehehe

Budaya ngopi sudah menjadi tradisi turun temurun untuk acara keagamaan dan ritual adat. Minuman kopi tidak pernah ketinggalan disajikan. Tiap berjumpa di kedai kopi akan terbangun pola interkasi dan narasi yang disampaikan dari satu penikmatnya ke pencinta kopi lainnya.

Ternyata sudah menunjukan pukul 11.00 malam. Kedai kopi ini mau akan tutup. Tugas telah selesai, begunjing pun tidak ketinggalan, melepas rindu saat berjumpa dengan teman pun membuat suasananya kian hangat. Sudah dulu deh.

Kopi, bercakap, dan silaturahmi. Bagiku, kata-kata ini seakan menjadi quote yang memiliki daya magis tersendiri. Harus diakui kopi semakin naik kelas, telah menjadi kebutuhan primer dari gaya hidup anak milenial. Kopi dan aromanya selalu menebar rasa. Termasuk rindu yang mewakilinya. Ngopi kita?
———————————————————————————————————————————————
©Hak Cipta Bayu Haryanto. Jika mengkopi-paste tulisan dan foto ini di situs, milis, dan situs jaringan sosial harap tampilkan sumber dan link aslinya secara utuh. Terima kasih.

26 comments:

  1. Ngomongin kopi di Padang, aku suka banget salah satu kopi bubuk dari sana. Kalau tidak salah Namanya "Rangkiang Kaum" atau apa gitu. Itu kopi bubuk yang cocok dengan lidahku. Dulu dikasih kawan dari Dharmasraya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ia mas di Minangkabau banyak nih kopinya juga. Baik bentuk biji m kopi bubuknya. Pengen bgt liat proses pembuatannya secara tradisional

      Delete
    2. Ya mas, kopi rangkiang kaum, kalau ga salah dari batu sangkar, di padang bisa di cari di citr* swalayan, tapi harus cek terus, soalnya stok sering habis, #pengalamanmencarisecangkirkopi

      Delete
    3. Mantap nih. Sekarang kopi bubuk lebih mudah dicari. Namun, harus sedikit bersabar karena masalah stok barangnya saja. Betul harus sabar mencarinya

      Delete
  2. I loooveee Kopi banget banget bangeeett
    Kalo lagi ke Padang, aku pengin mengikuti jejak kuliner kopi ala dirimu Kak
    --bukanbocahbiasa(dot)com--

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah mantap juga pencinta kopi berat kyknya. Silahkan nikmati kopinya

      Delete
  3. Meski cuma penyuka kopi sachet tapi tidak mengurangi kecintaan pada citarasa, eh tapi aku nggak banyak2 minum kopi😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe klo kopi sachet gk mau banyak banyak karena porsi gulanya cukup tinggi hehe

      Delete
  4. Bukan pecinta kopi, tapi suka-suka aja nongkrong di kedai-kedai kopi, minumnya pesen menu lain wkwk..

    -Traveler Paruh Waktu

    ReplyDelete
    Replies
    1. dulu suka gitu bg, tapi sekarang mah kalo ngopi pasti nanti pesannya y kopi. Untuk tempat nongkrong memang bisa jadi pilihan ke coffee shop

      Delete
  5. Kedai kopi sungguh menjamur ya. Saya sempat menemui kawasan yang jejer-jejer kedai kopinya. Btw, saya baru tau ada kopi dari daunnya. Apa juga wangi?

    ReplyDelete
    Replies
    1. IA kedai kopi ini sudah banyak sekali dan mudah di jumpai. Ia namanya kopi kawa, harumnya khas tapi aku gk suka itu hehehe

      Delete
  6. Retweet bang Barra qkqkq.

    Kopi jaman now kebanyakan kafein olahan dan gula/campuran perasa lain. Kadeinnya addiktid, gula/perasanya kurang bagus utk kesehatan. Yang sehat cuma kopi polos dari biji asli itu doang wkwkkwk.

    ReplyDelete
    Replies
    1. ia aul setidaknya bukan kopi sachetan ehehe makanya ngurangi gula kalau pun ngopi hitam di kedai-kedai hehehe

      Delete
  7. Wah ada muka ku haha. Langka banget nih kesempatan nongol di blog bang ubay yang biasanya penuh foto kuliner, wisata, gunung, hutan dan air terjun atau sungai wkkwkwkw

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ia aul cukup langka. Biasanya kalo ada pergi hunting bareng mungkin nanti akan bisa masuk aul wkwkwkwk

      Delete
  8. Memang kopi itu bisa memberikan banyak makna dan sensasi dalam persahabatan...aku juga pecinta kopi loh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah kapan-kapan kalo ke padang bisa sambil jumpa n ngopi2 mbak
      Meski buka pencinta kopi sejati hehehe

      Delete
    2. Siyap Ubay...aku juga bukan pecinta kopi sejati tp bolehlah sekali kali hehe

      Delete
  9. Waduh Bandung juga dilanda warung kopi kekinian, jadi pingin nulis juga 😊😊

    ReplyDelete
  10. Wihh kopi enthusiast :D. hehe jadi pengen cerita deh, moments jatuh cinta sama kopi itu pertengahan 2017 waktu nyoba v60 dari biji kopi gayo. rasanya asem pait banget samapai seorang teman mengajari cara minumnya yang diseruput, Ajaib ternyata kopi punya cara tersendiri buat menikmatinya hehe skuylah ngopi

    ReplyDelete
  11. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  12. Yuk...ngopi yukk...Di Sumbar boleh juga lah...hahaha...Kopi Indonesia emang beragam dan khas banget ya...termasuk kopi dari SUmbar nih.

    ReplyDelete
  13. Wah Kopi janji Jiwa udah nyampe juga di Padang. Aku pecinta kopi, meski sekarang udah mulai hati -hati mengonsumsi nya. Karena penyakit asam lambung bikin aku harus pintar cari waktu aman untuk ngopi

    ReplyDelete
  14. Benar yaa...
    Kalau ingat kopi, tentu ingat teman.
    Hehehe...gak asik rasanya ngopi dalam kesendirian.

    ReplyDelete
  15. sebagai pengidap maag dan geerd aku belum bisa menikmati kopi asli, paling aman ya kopi sachetan itu Bay wkwkw...
    pernah sih minum kopi tubruk, tapi ya hbs itu mual hehe...

    Bay, aku penasaran deh sejarah kenapa kalo kopi bahasa minangnya jadi kawa, kalo di jambi bagian barat juga kawo, sementara di daerah lain dari coffie jadi kopi hehe..

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...