Friday, January 9, 2015

Menangkap Senja dan Menikmati Indahnya Kebersaman dari Bukit Nobita




Tak ada rencana sebelumnya, hanya melalui diskusi kecil di Chat Massanger Line untuk pergi meet up jilid kedua. Sebelumnya kami dari pejuang @BerbaginasiPDG sudah melakukan hal serupa untuk sekedar berkumpul dan bersilaturahmi dengan menjelajahi Gunung Padang dan pada kesempatan kali ini bakalan mencoba mendaki Bukit Nobita.

Yeah, Bukit Nobita. Sebuah bukit yang kini sangat sangat sangat terkenal dan begitu fenomenalnya dipenghujung tahun 2014. Bertapa tidak, bukit yang dipenuhi oleh ilalang ini menjadi perbincangan di Sosial Media (seperti Facebook, Twitter, Instagram hingga BBM) oleh kaula muda Kota Padang, bahkan banyak juga dari rombongan se-keluarga besar yang penasaran melihat keindahan kota dari ketinggian.

Hari kedua di awal tahun 2015, tepatnya 2 Januari 2015. Masih dalam suasana tahun baru. Pertemuan kedua kali ini kami berkumpul dipersimpangan Jalan Arai Pinang Bypass Lubuk Begalung. Di sini start awal untuk mulai menjelajah. Kali ini saya bertindak sebagai tour gaidenya meskipun @whitakaka juga pernah ke bukit ini.

Ada yang berbeda pada pertemuan kali ini, semua pejuang membawa pasangannya masing-masing seperti pak komandan @bennybern bareng temannya, om @extariq dengan @nilmasari, abang @atuakkk bersama ekhm-ekhmnya, dedek @whitakaka bareng @bobbytrymayendra katanya someting specialnya. Nah saya dan om @EriEndribel sendiri saja hanya bersama angin yang membelai-belai. Bahahaa. Ops tunggu, ada juga bersama kami ikut tiga orang lagi Redo teman @whitakaka dan sepasang lagi teman seperti pak komandan @bennybern.

Kami serombongan yang berjumlah 13 orang ini langsung melaju dengan menggunakan kendaraan beroda dua. Memang diajurkan bila ke Bukit Nobita menggunakan motor karena kendala masalah perparkiran bila menggunakan mobil.

Satu persatu dari kami memutarkan gas motornya melewati jalan Arai Pinang melewati rel kereta api dan bila sudah terlihat pertigaan yang ada plang bidan yang letaknya sebelah kiri, dapat belok dan masuk terus kedalam mengikuti jalan hingga menemukan jalan berbatu yang berujung hingga banyaknya orang-orang yang memarkirkan kendaraannya. Dari sana titik awal untuk naik ke Bukit Nobita. Sebenarnya ada dua jalan untuk menuju bukit nobita namun pada kesempatan ini melewati jalan Arai Pinang.

Dalam tulisan saya yang berjudul Yuk ke Bukit Nobita, Temukan Sensasi Berfoto Berlatarkan Kota Padang telah diceritakan dengan detai mengenai kenapa penamaan tempat fenomenal ini bukit Nobita, akses jalan dan jarak tempuh hingga bercerita panorama Kota Padang dari ketinggian melalui tempat ini. Tulisan tersebut tidak lain pengalaman pertama kalinya saya mengunjungi Bukit Nobita. Nah, kali ini saya akan berbagi cerita mengenai kondisi kekinian Bukit Nobita.

Bukit ini terletak di Kelurahan Kampung Jua, Kecamatan Lubuk Begalung, Kota Padang, Sumatra Barat. Banyak juga sebutan untuk nama bukit ini seperti Bukit Kampusng Jua, Bukit Batu Kasek, Bukit Tiga Sajarangan hingga yang terkenal dengan nama Bukit Nobita meskipun namanya yang sebenarnya adalah Bukit Tigo Tungku sajarangan.

Saya tiba-tiba berhenti ketika di depean saya ada dua orang bocah yang meminta saya untuk meletakkan kendaraan yang berada di tempat heler padi, kemudian saya bertanya ke rekan-rekan yang lain mau parkir di sini atau dimana, mereka menyarankan agar parkir ditempat biasa saja.

Lanjut, tak jauh dari bocah itu ada seorang bapak paruh baya yang juga meminta dengan ekspresi cukup memaksa untuk memarkirkan motor saja ke halaman rumahnya namun saya tetap lanjut hingga sampai di sebuah rumah kaya yang telah berbaris kendaraan di pekarangan rumahnya.

Mesin motor telah mati dan kendaraan telah diparikirkan. Ada hal yang berbeda ketika pertama saya datang ke tempat ini. Biasanya usai naik bukit kita akan diminta uang parkir namun pada hari itu langsung diminta uangnya sebesar Rp.5000,- per kendaraan. Itulah hal aneh pertama.

Saat berjalan menuju posisi awal pendakian ternyata sudah ada puluhan orang telah antri bahkan telah banyak pula motor yang parkir di sana. Mengerikan juga melihat kondisi tersebut. Dengan semangat 45 kami melangkahkan kaki untuk dapat menikmati keindahan Kota Padang dari ketinggian versinya Bukit Nobita.

Ketika akan naik, kami sudah dihalang oleh beberapa penduduk yang meminta uang masuk sebesar Rp.3000 per orangnya selain itu kini penduduk sudah menjual air mineral juga. Wah, sejak kapan pula ada biaya retribusinya? Ya sudahlah. Menjadi hal yang aneh kedua.


Saatnya mendaki. Menuju bukit hanya bisa diakses dengan berjalan kaki menyusuri jalanan setapak yang sudah dibuat jalurnya. Saat awal mendaki kemiringan bukit sekitar 45 derajat melewati perkebunan masyarakat dengan jalanan yang bertanah merah, beratu dan licin bila hujan tiba. Saat awal naik ada perasaan yang berbeda ternyata jalan menuju ke puncak telah diperlebar kira-kira hingga 1,5 meter, biasanya hanya saja kurang dari 1 meter. Ini hal aneh ketiga.


Setelah itu akan mulai tampak pemandangan kota dan masuk ke kawasan padang rumput ilalang. Rumput ini memilik ketinggian tidak lebh dari 1 meter. Daerah padang rumput ilalang ini kita sudah dapat melihat Kota Padang dari ketinggian. Saat mendaki, tidak hanya rombongan kami saja yang hanya naik, ternyata sudah ada puluhan orang hilir mudik naik turun bukit ini. Ramai sekali. Keanehan keempat.

Bila sampai disekeliling sudah padang ilalang dan terdapat satu tempat yang datar maka disana sudah bisa memandang keindahan Kota Padang selain itu bila berjalan hingga puncaknya akan ada tiga buah batu besar yang mengelilingi pohon besar.

Saya bersama om @EriEndribel, dedek @whitakaka, @bobbytrymayendra dan duluan sampai di spot pertama, itu menurut saya sebelum ke spot menaik berikutnya hingga sampai puncak. Sembari menunggu rombongan lainnya, kita mengabadikan moment terlebih dahulu dengan berfoto-foto tentunya foto selife.


Semenjak memasuki padang ilalang ini, sampah-sampah yang berserakan mulai terlihat. Sejak saat itu menjadi objek perhatian saya dan sempat saya abadikan. Sangat menggangu sekali. Sungguh menyedihkan dan juga saya menggerutu dalam hati akan kesadaran pengunjunga yang membuang sampah sembarangan. Ini sangat freak kelima.


Hari itu langit Kota Padang sedang cerah, awan yang berbaris tidak begitu rapat. Langit juga terlihat membiru, disudut lainnya mentari masih menampakan kehadirannya. Pancaran sinarnya yang menembus di sela-sela pepohonan Bukit Gado-Gado, bermain-main juga di antara rumput ilalang yang berdiri tegap. Lebih syahdu lagi bila angin berhembus dengan manja membelai tiap lembarnya ilalang.

Mata saya yang tengah memandang kota langsung tertuju pada matahari. Petang merupakan kondisi perputaran waktu dimana akan terjadinya peralihan antara suasana terang dan gelap. Petang itu membawa senja. Suasanya yang selalu dinanti karena begitu indah dan romantisnya. Mantap juga loh sambil mendengarkan lagu Jikustik-Untuk Cinta seperti liriknya ini “Bila sinar surya terang mengerangi kita, ku kan mendekapmu erat tak kan kulepaskan…”

Saya akan berburu dan menangkapnya, senja. Satu per satu petikan cahaya alam tersebut tertangkap dalam diagframa kamera dan tersimpan dalam memori. Mengabadikan kala senja tidaklah mudah. Bagi saya yang terpenting bila memotret sunset itu bila cuaca sedang cerah, awan tidak begitu rapat, sinar matahari masih terlihat dan terpenting teknik pengambilan gambarnya.

Setelah menunggu hampir setengah jam, rombongan kami telah lengkap berkumpul di spot pertama ini. Kemudian kami berfoto bersama dengan membentangkan spanduk @BerbaginasiPDG hingga tidak terasa azan Magrib telah berkumandang. Kemudian kami melanjutkan mendaki hingga sampai di dataran yang banyak bebatuan besar. Kami istirahat sejenak sembari berfoto-foto dan menikmati hari.

Teringat pula dengan artikel yang pernah saya baca, bila terbenamnya matahari banyak sekali dimaknai sebagai fase penyempurnaan. Dalam sistem penanggalan Islam, saat-saat lembayung merupakan saat-saat pergantian hari. Sistem penanggalan Islam adalah diawali dengan gema azan Magrib sebagai permulaan sebuah hari, bukan ketika jam menunjukkan pukul duabelas malam. Dengan sistem penaggalan inilah, penyempurnaan hari dalam Islam ditandai dengan waktu lembayung senja. Nat, tepat saat itu masuk 12 Rabiul Awal 1436 H dimana Nabi Besar Muhammad SAW lahir. Selamat Ulang Tahun Nabi Besar Muhammad SAW.

Yah, keindahan lain dari Bukit Nobita ini akan pun muncul ketika pergantian hari. Saat petang hingga gelap tiba panorama kota yang menakjubkan, garis senja yang berwarna orange, biru keungunan, emas merah hingga kuning yang berpadu menciptakan lukisan yang indah. Ditambah lagi dengan lampu-lampu kota begitu meriah menyala tampak dari atas bukit ini. Speechless banget. Beautifull bro!

Puas di lokasi yang menurut saya spot kedua itu, kami lanjut menuju puncak, semakin naik semakin sempit dan sulit jalan yang akan ditempuh. Sampai juga atas batu yang sangat besar ini yang bisa dimuat lebih dari 20 orang dan kami pun tidak sampai ke puncak berhenti pertualangan kami sampai di batu ini saja. Di atas batu ini pemandangan kota Padang dapat terlihat sangat sangat sangat jelas, viewnya 180 derajat loh. Asik bukan.

Bukit nobita yang menawarkan keindahan landscape Kota Padang yang kini mulai tidak cihuy lagi, telah digaduh oleh beberapa keanehan yang telah saya ceritkan pada paragraf sebelumnya. Pertama mengunjunginya tempat ini masih asri, tidak ada sampah dan masih bisa sepi, sekarang ini kebalikannya. Mungkin akibat sisa-sisa malam pergantiahan tahun kemarin itu.

Ada rasa sesal dalam diri, sebagai salah salah satu person yang telah menjadi bagian dalam menyebarluaskan keindahan bukit ini, namun disamping itu bangga karena telah berbagi keindahan alam yang telah diciptakan-Nya. Bukankah berbagi itu indah. Tsssh.

Tertumpang besar harapan pada Pemerintah Kota Padang agar dapat menjadi dikelola lagi dengan baik sebagai salah satu objek wisata baru. Bukankan selama ini kita hanya tertuju berwisata di tepian pantai sembari bersepeda, nongkrong di jembatan Siti Nurbaya atau di cafe-cafe sembari menghabiskan hari menunggu matahari sampai diperduannya.

Bagaimana pun juga Bukit Nobita ini menyajikan panorama hamparan kota dan menjadi salah satu spot terbaik untuk menikmati keindahan Kota Padang dari ketinggian atau city light. Bila ingin ke bukit tersebut ada baiknya saat sore hari ketika matahari hendak tenggelam sebab dapat memotret kala senja Kota Padang dari ketinggian. Malam hari adalah waktu yang tepat untuk mempotret panorama Kota Padang seperti di Panorama Sitinjau Lauik atau Gunung Padang.

Bukit ini terdapat bebatuan besar untuk berpijak dan memandang sekeliling daerah disekitar kita. Pemandangan yang menakjubkan akan terlihat dan rugi rasanya bila telah sampai ke puncak bukti tidak mengabadikan momen awesome ini.

Momen berharga kembali terekam dan kali ini bersama mereka kembail. Oke guys, ditunggu trip jilid ketiganya yah.
———————————————————————————————————————————————
Bayu Haryanto – biasa disapa Ubay. Penikmat senja yang bermimpi untuk explore Indonesia dengan tagline #JajahNagariAwak. Pemotret yang suka dipotret. Perngkai kata dalam blog kidalnarsis.blogspot.com. Jejaring sosial Twitter @beyubay dan Instagram @beyubaystory.

Traveling  Explore  Journalism  Photograph  Writer  Share  Inspire

 ©Hak Cipta Bayu Haryanto. Jika mengkopi-paste tulisan dan foto ini di situs, milis, dan situs jaringan sosial harap tampilkan sumber dan link aslinya secara utuh. Terima kasih.

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...