Friday, April 1, 2016

Keseruan Bermain di Air Terjun Lubuak Tampurung Padang


Lubuak Tampuruang lagi. Itu pilihan dari sekian list tujuan destinasi yang ingin dikunjungi saat libur pekan tiba. Ceritanya mau menjemput kembali jejak yang telah tertinggal dan menggantinya dengan kisah yang lebih seru lagi . Barangkali ada hal yang baru dan menarik untuk diceritakan. Tiap tempat akan memiliki pesonanya tersendiri, begitu juga dengan Lubuak Tampuruang ini. Jika dalam bahasa Indonesia ditulis Lubuk Tempurung.

Kala itu, saya bersama Imam Mardatilah dan M. Denis menghabiskan pagi di Lubuak Tampuruang. Dengan menggunakan sepedah motor kami pegi ke tempat ini. Kami telah janjian bertemu di jembatan Bypass Kuranji kemudian menuju jalan Raya Belimbing hingga sampai di simpang menuju lokasi.

Dari sini kira-kira jaraknya sekitar 20 km dari pusat kota. Hingga posko parkir kendaraan masih ditempuh sekitar 2 km dan untuk sampai di lokasi air terjun harus berjalan kaki sejauh 500 m.

Oh iya lupa bercerita, Lubuak Tampuruang itu merupakan objek wisata pemandian alam yang memiliki air terjun berada di atas perbuktian Kampung Guo, Kelurahan Kuranji, Kecamatan Kuranji, Kota Padang, Sumatra Barat. Destinasi ini dikenal dengan nama Air Terjun Lubuak Tampuruang.

Saat saya berkunjung ternyata ada hal yang baru dari objek wisata ini. Beberapa bagian telah dipercantik, sudah ada plang yang menunjukan keberadaan Air Terjun Lubuak Tempuruang. Kemudian setelah sampai di posko tempat meletakan kendaraan sudah ada gapura dan pos penjagaan. Ini dibuat pada pertengahan Desember 2015 lalu berkat binaan salah satu perguruan tinggi di Kota Padang. Semakin kece nih.

Jadi penasaran, apa lagi yang terbaru ketika telah sampai di lokasi air terjun ini. Satu per satu jejak langkah kaki ini dijemput kembali. Akses menuju lokasi sangat mudah, ditempuh dengan menyusuri jalan setapak yang telah dibuat dan selama perjalanan akan melewati perkebunan rambutan dan durian milik masyarakat. Untuk rutenya bisa deh baca plesiran saya sebelumnya, Memanjak Badan di Air Terjun Lubuak Tampurung

Kemudian sedikit mendaki beberapa anak tangga yang terbuat dari semen seadanya. Cukup layah (becek.red), bertanah merah lagi saat itu, sebab semalam hujan sempat mengguyur Kota Padang. Sampai di atas bukit, hamparan sebagaian Kota Padang terlihat. Suguhan panorama alam  yang memanjakan mata.

“Wis, liat bang. Keren !” ucap sepontan Imam.

“Iya mam, itu sebagaian kota terlihat, sekitaran Kuranji dan Bypass mam.” Jawabku sambil menunjukan ke arah kota.

Posisi saya saat itu berada dibelakang mereka. Sengaja untuk bisa memetik beberapa gambar selama perjalanan hingga menuju lokasi air terjun. Memang berfoto menjadi hal wajib bila datang ke tempat wisata sebab bukan sekedar fotonya saja namun ada cerita dibalikanya itu. Untuk setiap foto memiliki jutaan makna yang tidak bisa dijelaskan oleh kata-kata. Selama perjalanan hingga di lokasi saya terus mengabadikan momen untuk spot-spot tertentu.

Sebentar lagi akan sampai setelah melewati jalan bebatuan pada pendakian yang kedua. Tidak berapa lama kemudian terdengar suara gemuruh air maka akan sampai ke lokasi air terjun.

“Itu air terjunnya,” ucap senang Denis.

Ikon “Lubuak Tampuruang”


Denis dan Imam nampaknya mempercepat langkahnya untuk menuju air terjun. Sebenarnya mereka baru pertama kali mengunjungi tempat ini dan saya untuk kali keduanya. Dari kejauhan terlihat ada tanda yang bertuliskan Lubuak Tampuruang dipasang di tebing bebatuan tingginya sekitar 3 m dari dari permukaan tanah. Itu menjadi ikon dan yang terbaru lagi dari objek wisata ini. Bakalan banyak pengunjung yang selfie di sini nih. Jika ingin berfoto yang tertib dan jangan merusak ya. Hehe

Meskipun berada di pinggiran kota, pesona yang disajikannya sangat menawan, berpagar bebatuan yang bentuknya unik dan tertata apik sekali. Berada di perbukitan yang masih asri, rimbuh oleh pepohonan meski berada di dekat areal perkebuanan warga.

Banyak kupu-kupu yang berkeliaran dan sesekali burung-burung hutan turun untuk minum di sepanjang aliran sungai yang jernih dari aliran Sungai Batang Guo yang berada di kawasan Bukti Barisan dengan ketinggian lebih dari 700 mdpl.

Perjalanan yang cukup melelahkan akan terbayarkan dengan suguhan kicauan burung, gemericik air, tarian dedauan, suasana yang sejuk, sepi, damai serta dinginnya air sungai yang menjadi perpaduan yang sangat menyegarkan jiwa raga. Tentunya siapa juga yang tidak betah dengan suasana tersebut untuk berlama-lama berada di sini.

Itulah pesonanya yang menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung. Ditambah lagi dengan adanya ikon sign Lubuak Tampuruang. Semakin lengkap menjadikan daerah ini sebagai destinasi wisata yang patut untuk dikunjungi. Jujur saja tidak akan rugi kok.

Saya terus melangkah mengikut Denis dan Imam, mereka sudah hampir sampai di lokasi air terjunnya. Sebenarnya air terjun di kawasan Lubuak Tampuruang ini ada dua, pertama letaknya di bawah jalan setapak sebelah kiri. Air terjunnya cukup menarik, kiri kanannya terdapat bebatuan yang mirip piramida, disusun bertumpuk-tumpuk. Keren nih kalo foto lagi di sana, sebelumnya saya pernah mengabadikan foto di air terjun ini tapi fokus saya pada ikon sign Lubuak Tampuruang.

Air terjun kedua, ya Air Terjun Lubuak Tampuruang. Dinamakan itu karena bentuk lubuaknya (kolam) yang menyerupai batok tempurung kelapa. Aliran air ini berasal dari Sungai Batang Guo, Gunung Nago yang jatuh membentuk air terjun. Diperkirakan memiliki ketinggian lebih dari 10 meter dengan kedalaman lubuak bisa mencapai lebih dari 2 meter berwarna hijau. Jika dilihat dari ketinggian maka lubuak tersebut memang seperti tempurung kelapa yang telah dibelah, sehingga tidak salah bila tempat ini diberi nama seperti itu.

Dulu Sarasah Pak Uruang

Saya juga baru tahu, ternyata sebelum dikenal dengan nama Air Terjun Lubuak Tampurung, dulunya bernama Sarasah (air terjun) Pak Uruang. Nama tersebut dilekatkan kepada tetua kampung yang pertama kalo menghuni kampung ini yaitu Pak Uruang. Kabarnya, sekitar tahun 1950-an daerah Guo Pitameh (mungkin sekarang Kampung Guo dan sekitarnya) dihuni oleh tiga kepala keluarga dari suku Melayu keturunan daerah Darek.

Siapa yang mengira, lambat laun pendatang semakin bertambah dan menetap di sini sekaligus untuk membuka ladang dan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dulu, belum ada yang memberi nama air terjun itu. Kemudian tahun 1983, kala itu sedang ada kegiatan Operasi Bakti ABRI (sekarang TNI), nama Lubuak Tampuruang muncul ketika proses pembukaan jalan setapak dari daerah Balimbiang menuju daerah kecil Guo Pitameh dan diteruskan hingga menuju ke Sarasah Pak uruang. Sejak itu hingga saat ini masyarakat mengenal Air Terjun Lubuak Tampurung.

Langkah terus tertuju pada yang berada di apit tebing bebatuan besar. Inilah Air Terjun Lubuak Tampuruang, kataku dalam hati. Akhirnya semua keringat yang mengucur terbayar sudah. Sebuah air terjun dengan tinggi lebih dari 10 meter ini telah menyapa dan aliran air yang terjun bebas menari-nari indah di depan mata.

Puluhan kubik air yang tertampung membentuk lubuk berwarna hijau ini sungguh mengoda untuk segera bermain air. Debit airnya cukup deras kala itu, sehingga banyak butiran-butiran air yang berhamburan mengenai badan bila mendekati air terjun ini. Kedalaman lubuaknya bisa mencapai lebih dari 2 meter dan berwarna hijau.

Jepret sana, jepret sini. Rasanya sudah cukup. Saatnya membasahkan badan. Sebenarnya jika tidak mandi di Air Terjun Lubuak Tampuruang itu tidak lengkap rasanya, apalagi mencoba terjun bebas (jump shoot)  ke dalam lubuak-nya. Dari rumah saya belum mandi pagi dan jauh-jauh ke sini hanya untuk mandi saja. Hahaha

Tapi tidak juga, ada hal lain yang dapat kita peroleh ketika bermain di alam. Selain untuk menyegarkan pikirian dan badan, tak kalah penting untuk selalu bersyukur akan karunia yang telah diberikan-Nya telah menciptakan alam yang begitu indah ini. Menurut penelitian juga jika rajin traveling maka tingkat kebahagiaannya akan tinggi jauh dari stres. Katanya sih.

Aksi Bersih-Bersih



Denis dan Imam sudah bersiap bermain air. Saya bersiap-siap juga. Ketika hendak meletakan tas dan pakaian. Tiba-tiba Denis teriak banyak sampah dedauan dan ranting di dalam kolammnya. Dengan spontan saja saya teriak untuk meminta mereka membersihkannya. Lalu melihat di sekitar saya ternyata banyak sampah plastik yang berserakan dan sangat mengganggu pemandangan.

Tidak ada yang memerintah, tapi ini aksi spontan saja untuk membersihkan sampah ini. Banyak plastik sisa bungkus makanan, minuman, bungkus rokok bahkan ada juga celana dalam yang tidak sengaja dibuang oleh pengunjung.

Bermodalkan kantong plastik sisa yang ditemukan di sini, kami bersihkan tebing demi tebing sekitar Air Terjun Lubuak Tampuruang. Hanya sampah yang tidak terurai oleh alam yang kami pungut. Sampah tersebut kemudian saya buang ke sebuah tong yang setengahnya telah terisi sampah. Sudah tiga kantong sampah kami kumpulkan dan buang ditambah juga satu kantong besar lagi yang saya ikat dan rencananya akan dibawa ke posko.



Barangkali siapa juga yang ini menikmati keindahan alam namun dengan suasana yang tidak nyaman penuh sampah. Sangat disayangkan. Saya berkata kita sambil-sambil saja lah, sambil berfoto  dan mandi, sambil juga bersihkan sampah, tidak ada salahnya juga.

Selesai, lumayanlah bersih juga. Saatnya mandi. Hati-hati ketika ingin bermain air dan lewat bebatuan sebab licin banyak terdapat lumut. Saya sempat terpeles, begitu juga Denis yang telah tajilapak sebelumnya. Padahal sudah saya ingatkan.

Puas bermain air, akhirnya kami membilas badan dan mengganti pakaian. Untung saja saat berkunjung ke sini tidak ada orang hanya kami saja. Itulah keuntungannya bila melancong ke tempat wisata itu pagi-pagi, sehingga bisa leluasa untuk bisa berinteraksi dan meresapi aura positif alam ini.

Kawasan Air Terjun Lubuk Tempurung sering dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai pemandian alam, biasanya akan ramai dikunjungi saat menjelang bulan Ramadan untuk Balimau atau hari libur sekolah.

Air Terjun ini cukup terbuka, sinar matahari semakin terik dan menembus dasar bebatuan lubuak yang berwarna hijau. Saat hendak pulang ada pengunjung yang datang, keluarga beranak satu. Sampai di posko ada rombongan lainnya yang juga datang. Untung saja pagi kami ke sini.

Perlu Ditambah Fasiltias


Tempat ganti pakaian memang seadanya meskipun terdapat 6 pondok di kawasan ini dan hingga saat ini, saya gagal paham kegunaanya sebab saat ke sini pondok tersebut tidak ada satu pun yang menunjukan aktivitasnya. Begitu juga minimnya tempat sampah sehingga wajar bila akan ada sampah berserakan di kawasan ini.

Sesampainya di posko, seorang pemuda menghampiri dan kami pun kemudian mengeluarkan uang Rp.4 ribu untuk biaya parkir. Per motor dikenakan biayanya Rp.2 ribu.

Saya sempat berbincang-bincang dengan pemuda yang kemudian saya panggil uda ini. Dengan ramah dia menjawab beberapa pertanyaan yang saya ajukan. Ternyata Air Terjun Lubuk Tampuruang memang sudah dikenal sejak tahun 1980-an dan untuk gapura ini dibuat pada pertengahan Desember 2015 lalu berkat binaan salah satu perguruan tinggi di Kota Padang. Bahkan saya juga curhat kepadanya tentang minimnya tempat sampah dan tempat ganti pakaian di lokasi wisata.

Ketika alam memberikan pesonanya dan kita menjaganya, maka alam pun akan menjaga kita. Tidak ada yang perlu disalahkan. Ketika kita tidak mau menjaganya, setidakanya jangan merusaknya, semisalnya buang sampah.

Saya bukan pencinta alam yang hobi melalang buanana dan menjelajah sana sini. Saya hanya penikmat alam saja. Pelajaran berharga yang saya dapatkan secara langsung kala itu dan alam pula yang mengajarkannya. Seperti pepatah minang, alam takambang jadi guru. Terakhir saya berfoto di depan gapura objek wisata ini sebagai penutup perjalanan kami kali ini.

Air Terjun Lubuk Tempurung memiliki banyak potensi wisata yang perlu dikembangkan. Jalan-jalan ke Air Terjun Lubuk Tempurung dapat menjadi pilihan untuk memanjakan badan karena pesonanya yang rupawan. Ditambah suasananya yang alami dan airnya yang jernih dapat menjadi terapi untuk mencairkan kejenuhan keseharian kita serta meluruhkan segala penat yang ada. Terutama dalam mengisi waktu libur.  Jangan lupa juga singgah menjelajahi  Lubuak Batingkek Pesona Lain Kampung Guo Padang

(Saya sudah berkali-kali mengunjungi Air Tejun Lubuak Tampuruang ini)


Gerbang menuju Air Terjun Lubuk Tampurung

Perjalanan mendaki bukit

Suasana Air Terjun Lubuk Tampurung







————————————————————————————————————————————————————
Bayu Haryanto – biasa disapa Ubay. Penikmat senja yang bermimpi untuk explore Indonesia dengan tagline #JajahNagariAwak. Pemotret yang suka dipotret. Perngkai kata dalam blog kidalnarsis.blogspot.com. Jejaring sosial Twitter @beyubay dan Instagram @beyubaystory.

Traveling  Explore  Journalism  Photograph  Writer  Share  Inspire

 ©Hak Cipta Bayu Haryanto. Jika mengkopi-paste tulisan dan foto ini di situs, milis, dan situs jaringan sosial harap tampilkan sumber dan link aslinya secara utuh. Terima kasih.

6 comments:

  1. saya selalu ingin ke padang, kapaaan yahh heheee

    by mydaypack.com

    ReplyDelete
  2. wah sayang banget ya kalo tidak dirawat dengan baik tempat sebagus ini lama kelamaan bisa rusak atau kotor karena sampah

    ReplyDelete
  3. Wah, Lubuak Tampuruang sudah makin bagus. Dulu saya ke sana Desember 2014. Naik angkot disambung ojek. Dulu itu sebagian jalannya masih rusak dan di sekitar air terjunnya kotor banget dengan sampah. Lokasi parkir juga masih ala kadarnya.

    Alhamdulillah, senang sekarang melihat Lubuak Tampuruang sudah lebih bersih. Terima kasih juga dirimu mau memungut sampah-sampah yang berceceran di sekitar sana. Pertahankan terus sikap positifmu ini. Semoga pengunjung Lubuak Tampuruang menjadi semakin sadar pentingnya menjaga lingkungan agar tetap bersih. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ia mas. Kalo berwisata tentu harus saling menjaga. Terutama jaga lingkungannya dari sampah. Kadang kita suka khilaf.

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...