Friday, September 16, 2016

Ke Kota Padang? Yuk Ikuti Liburan Ala “Siti Nurbaya” Masa Kini

Panorama Kota Padang dari Taman Siti Nurbaya, Gunuang Padang (2016).

Siti Nurbaya atau Sitti Nurbaya bukan sekadar roman picisan saja. Ceritanya memang tak akan pernah habisnya untuk dibahas. Tetap menjadi sebuah legenda di Kota Padang, Sumatra Barat. Kisah percintaan sepasang sejoli yang harus kandas dan mengharukan. Tentunya seperti dalam judul romannya Sitii Nurbaya Kasih Tak sampai, karya sang maestro sastra terbaik Indonesia, Marah Rusli.

Begitu juga dengan konflik dan latar belakang ceritanya menyuguhkan sisi lain yang menarik untuk ulik. Sebut saja cara liburan ala Siti Nurbaya. Bagi yang sudah membaca roman lengkapnya terdapat beberapa tempat berlibur yang dikunjungi oleh Siti Nurbaya maupun masyarakat Kota Padang tempo dulu seperti mengunjungi Gunuang Padang, menikmati suasana Muaro Padang hingga berkeliling pasar yang ada di sekitar kawasan tepi sungai Batang Arau.
  
Melihat Sejarah dari Padang Lama

Gedung Padangsche Spaarbank (2015)

Mari kita mulai berlibur dengan datang ke Kota Tua Padang. Mengapa harus ke tempat ini? Begini, bila ditarik ulur cerita hadirnya Kota Tua Padang, maka tidak lepas dari keberadaan pelabuhan Muaro yang merupakan cikal bakal dari keberadaan Kota Padang saat ini. Pelabuhan ini yang berada di dekat muara sungai Batang Arau yang menghadap langsung Samudera Hindia.

Kota Padang pada awalnya sebuah perkampungan nelayan dan merupakan dareah rantau di Minangkabau yang  dalam perkembangannya menjadi kota yang sangat penting di masa lampau. Keberadaan pelabuhan Muaro menjadi saksi sejarah tersendiri bagi perkembangan Kota Padang yang pernah menjadi perdagangan, militer hingga kota metropolitan yang sangat berpengaruh dan penting di pulau Sumatra. Tidak heran juga latar kehidupan Kota Padang lama ini masuk dalam daftar liburan dicerita Sitti Nurbaya.

Jika dilihat masa kini, nuansa nostagia akan terasa bila menjelajah Kota Tua Padang. Jejak kejayaan tempo dulu masih bisa temui dengan mulai menelurusi sepanjangan Muaro, Batang Arau, Pasa Gadang (Pasar Hilir), Pasa Mudik, dan Pasa Tanah Kongsi  hingga kawasan Pondok. Dari sini terlihat berjejer puluhan bangunan tua  dan bekas kantor pemerintahan, perbankan, serta kantor dagang peninggalan VOC. Bangunan tersebut yang masih tegak berdiri meski keberadaannya sangat terancam.

Menjelajah Kota Tua Padang memiliki kesan tersendiri dihati. Banyak hal yang menarik yang akan ditemui dan tentunya tidak cukup sehari saja untuk dapat melancong ke kawasan heritage-nya Kota Padang ini. Saya telah berkali-kali menelusuri Kota Tua Padang baik berjalan sendiri atau bersama teman-temen.

Dengan berkeliling Kota Tua Padang kita dapat menemukan hal-hal yang menarik seperti belajar sejarah Kota Padang sembari olahraga dengan ngegoes sepedah, mengenal arsitketur bangunan tempo dulu, mencari spot hunting foto untuk menangkap sudut-sudut eksotisme Kota Padang tempo dulu. Biasanya dengan gaya ala urbex, street atau vintage. Ada juga yang menjadikan latar untuk foto prawedding.

Kawasan Kota Tua Padang ini, tidak hanya banyaknya bangunan peninggalan kolonial saja namun memiliki keberagaman tradisi budaya multietnik yang berbaur menjadi atraksi yang menawan salah satunya pertunjukan Barongsai oleh masyarakat Tiongkok atau tradisi melempar gula yang dilakukan oleh masyarakat muslim keturunan India hingga beragam kuliner khas, cafe kekinian dan tempat nongkrong favorit kaula muda Padang.

Jembatan Siti Nurbaya Antara Keindahan Alam dan Kerinduan

Jembatan Siti Nurbaya (2016)

Jika sudah puas menikmati pesona Kota Tua Padang yang memiliki beribu cerita ini dapat diteruskan menuju Jembatan Siti Nurbaya. Dalam roman Siti Nurbaya memang tidak diceritakan keberadaan jembatan ini, namun bila berlibur ke Kota Padang singgah ke jembatan ini menjadi hal yang tidak boleh dilewatkan.

Dulu, masyarakat menggunakan sampan sebagai alat transportasi untuk menyeberang dari dan menuju pusat kota Padang membelah sungai Batang Arau yang masih berada di kawasan Kota Tua Padang. Jembatan ini dibangun sejak tahun 1995, membentang sepanjang 156 meter dan dengan lebar jembatan 8 meter ini.

Jembatan ini dilengkapi juga dengan trotoar selebar 1,5 meter di kiri kanan jalurnya dan dihiasi oleh puluhan lampu-lampu taman yang berwarna perpaduan hitam keemasan yang disusun sedemikian rupa menyerupai bentuk gonjong yang menjadi identitas aristektur Minangkabau. Bila dilihat dari kejauhan akan tampak jelas bentuk gonjongnya.

Seperti dalam kisah cinta Sitti Nurbaya proses pembuatan jembatan ini sempat tersendat selama beberapa tahun akibat krisisi moneter yang melanda Indonesia pada tahun 1998 lalu. Dalam kurun waktu sekitar 7 tahun dan akhirnya kedua ujung jembatan ini dapat saling bertemu dan digunakan sebagai sarana penghubung transportasi bagi masyarakat.

Itu sepenggal kisah Jembatan Siti Nurbaya, namun jembatan legenda ini kini menjadi salah satu tempat kongkow favorit di Kota Padang. Ada juga kata kerennya untuk jembatan ini yaitu SBY –Siti nurBaYa.

Jembatan Siti Nurbaya memiliki keistimewaan tersendiri, sebab dari sini kita dapat menikmati panorama alam yang menakjubkan. Terkadang menjadi daya tarik tersendiri bagi pencinta fotografi untuk mengabadikan momen di tempat ini. Bila datang saat pagi hari kita dapat menyaksikan panorama matahari terbit yang berlatarkan perbukitan, Pabrik Semen Padang dan suasana kapal-kapan nelayan yang bersandar berada di aliran sungai Batang Arau.

Jika sore hari, si senja yang cantik akan menyapa, begitu syahdunya. Lain halnya, ketika malam tiba. Kelap kelip lampu rumah penduduk di sekitar bukit Gado-Gado dan kawasan Kota Tua Padang menjadi pemandangan yang cantik. Tak hanya itu cahaya tersebut membias pada aliran sungai Batang Arau membuat suasana malam semakin indah di atas jembatan ini.

Selain panorama alam, Jembatan Siti Nurbaya juga memiliki kuliner khas yang patut dicoba. Sedari sore hingga tengah malam di atas jembatan ini akan ramai dijumpai penjual jagung dan pisang bakar yang memadati tepian jembatan. Jajanan tersebut menjadi kuliner khas Jembatan Siti Nurbaya yang wajib dicicipi bersama es kelapa muda atau minuman teh yang dibotol lainnya. Percaya deh, jembatan ini selalu membuat rindu, baik alamnya dan kulinernya.

Serunya Rekreasi ke Gunuang Padang

Panorama Gunung Padang dari ketingaian (2015)

Dari Jembatan Siti Nurbaya dapat diteruskan mengikuti jalan hingga ke bawah jembatan, kemudian lurus terus dengan menyusuri tepian sungai Batang Arau hingga menuju arah Gunuang Padang yang berada di muara sungai.

Tempat ini memang banyak diceritakan dalam roman Sitti Nurbaya. Tidak salah juga Gunung Padang dan Sitti Nurbaya itu sering kali dikaitkan. Sangat memikat pengunjung. Sayangnya, meskipun  berlokasi di pusat kota, banyak juga masyarakat yang tak tahu, padahal seru juga loh melakukan rekreasi ke Gunuang Padang.

Gunuang Padang juga menjadi ikon bagi Kota Padang sebab telah melekat pada lambang administrasi kota ini yang berada Kelurahan Kampung Seberang Pabayang, Kecamatan Padang Selatan, Kota Padang.

Gunuang Padang bukan sembarang gunung, meski sebuah bukit yang ketinggiannya kira-kira 400 mdpl ini ternyata memiliki banyak cerita dan objek wisata yang patut dijelajahi. Dengan ‘mendaki’ 331 anak tangga hasil perhitungan saya dan teman kala itu. Kita bisa menemukan makam yang dipercaya oleh masyarakat sekitar sebagai tempat isitrahat terakhirnya Sitti Nurbaya.

Puncak gunung ini juga menjadi saksi atas perjuangan cinta mereka dengan nama Taman Siti Nurbaya dengan landscape Kota Padang dan lautan yang luar biasa indahnya. Bahkan di Gunuang Padang akan ditemui beberapa benteng dan bunker yang merupakan situs peninggalan zaman penjajahan Jepang. Kita bisa juga melihat suasana perkampungan nelayan hingga nikmatnya memancing. Seru bukan?.

Menikmati Pesisir Pantai Padang yang semakin Cantik

Tugu Padang IORA di Pantai Padang (2016)
Usai bertamasya dari Gunuang Padang, coba saja menyusuri pesisir Pantai Padang yang dikenal dengan sebutan Taplau (Tapi Lauik). Terdapat sejumlah destinasi wisata menarik yang dapat dinikmati bila bertandang ke sini. Kawasan pantai ini membentang dari Muaro hingga Muaro Lasak.

Dari Pantai Muaro Padang diteruskan melewati kawasan Taman Melati di Museum Adityawarman dan Museum Gempa 30 September 2009 yang terdapat beberapa taman dihadapannya seperti Taman Dipo, Taman Tugu Gempa dan Taman  Joang Sumatra. Di sini juga salah satu tempat nongkrong favorit anak muda Kota Padang di malam hari. Dulu tempat ini adalah lapangan luas yang bernama Lapagan Dipo.

Selanjutnya menyusuri Pantai Padang hingga menuju Pantai Purus yang memiliki landmark tulisan Padang kemudian bergerak menuju Pantai Muaro Lasak yang terdapat Monumen Merpati Perdamaian. Bagaimana pun juga mengabadian momen di landmark ini bisa disebut sah telah mengunjungi kota yang dikenal dengan buah bengkuangnya ini.

Ada perubahan yang cukup drastis di kawasan pesisir pantai padang ini. Dulu banyak bangunan pedagang kaki lima yang menutupi tepian pantai, namun kini sudah bersih, sepanjangan mata bisa memandang lautan. Inilah wajah baru dari pantai-pantai yang berada di pusat Kota Padang ini. Bisa dibayangkan juga ketika zaman Sitti Nurbaya itu kawasan Pantai Padang masih rimbun oleh pohonan dan rawa-rawa tidak secantik saat ini.

Bahkan, waktu libur lebaran tahun 2016 lalu di Pantai Muaro Padang ini ada sepasang bule yang berjemur dan cukup heboh, menjadi viral di media sosial. Artinya pantai di Kota Padang sudah nyaman bagi turis asing. Memang pesisir pantai Padang ini cocok untuk wisata keluarga. Coba tenggok bila pagi dan sore hari, banyak pengunjung yang umumnya para keluarga bermain di pantai.

Pantai menjadi salah satu pusat berkumpulnya anak muda Kota Padang sembari nongkrong, sembari menghilangkan penat dengan bermain air atau duduk-duduk manja mengunggu datangnya senja sambil makan bakso bakar atau kerupuk mie kuah sate. Mungkin bisa menikmati kerang pensi dan langkitang sebagai kuliner khasnya yang tersedia di LPC (Lapau Panjang Cimpago) dan tepi pantai.

Bersepedah di sore hari juga bisa dilakukan menyusuri tepi pantai hingga keliling Kota Tua Padang. Di sini ada yang menyediakan jasa sewa sepedah. Ada juga mobil-mobilan digoes yang berlampu hingga menaiki sampan dan bebek kayuh di Danau Cimpago.

Meski kisah Sitti Nurbaya ini berlatarkan kehidupan Kota Padang lama, kira-kira di akhir abad ke-19 jelang abad ke-20, namun bila dibawakan secara kekinian akan melahirkan sensai bernostagia yang luar biasa. Lewat kisah Sitti Nurbaya ini kita bisa menjelajah sepotong keindahan dan keunikan dari Kota Padang.

Mulai dari Kota Tua Padang, Jembatan Siti Nurbaya, Gunuang Padang hingga kawasan pesisir Pantai Padang ini masuk ke dalam Kawasan Objek Wisata Terpadu Gunuang Padang yang nantinya akan saling terintegrasi. Kini dalam tahap proses pembenahan dan penggembangan. Menariknya, tiap tahun ada iven yang kebudayaan Minangkabau yang menjadi ikon Kota Padang, bernama Festival Siti Nurbaya.

Asiknya, berlibur ala Sitti Nurbaya ini dapat dilakukan dalam satu hari perjalanan loh. Tidak jauh dan sulit. Kota Padang dan seisinya memang membuat rindu dan tidak lekang oleh waktu. Ayo ke Padang!

————————————————————————————————————————————————————
Bayu Haryanto – biasa disapa Ubay. Penikmat senja yang bermimpi untuk explore Indonesia dengan tagline #JelajahNagariAwak. Pemotret yang suka dipotret. Perngkai kata dalam blog kidalnarsis.blogspot.co.id. Jejaring sosial Twitter @beyubay dan Instagram @beyubaystory.

Traveling  Explore  Journalism  Photograph  Writer  Share  Inspire

©Hak Cipta Bayu Haryanto. Jika mengkopi-paste tulisan ini di situs, milis, dan situs jaringan sosial harap tampilkan sumber dan link aslinya secara utuh. Terima kasih.

6 comments:

  1. Nongkrong di pantai padang menunggu sunset sambil makan sate padang mah nikmat banget

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe ia mas Cumi lebay. Tapi yg asik tu sambil makan kerupuk kuah.
      Makasih juga udah singgah mas.

      Delete
    2. Kerupuk kuah ini yang mana yaa ??? Yang krupuk kuning trus di kasih bumbu ???

      Delete
    3. itu yang jadi tulisan ini mas, ia kerupuk kuning tu yg kayak opak aada kuah sate plus mie

      Delete
  2. Btw festival siti nurbaya ini diadain tiap taun apa baru taun skrg aja??


    Budy | Travelling Addict
    Blogger Abal-Abal
    www.travellingaddict.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tiap tahun mas. Sudah sejak tahun 2011.Doakan aja biar ada lagi ditahun berikutnya.

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...