Monday, December 21, 2015

Padang Mangateh, Laksana New Zealand-nya Indonesia


Hamparan padang rumput hijau yang begitu luasnya terlihat sepanjang mata memandang. Hewan-hewan berkeliaran bebas mencari makan. Bukit-bukit yang mengelilingi ditambah barisan awan bersama langit birunya yang terlihat dari kejauhan menjadi pelengkap lukisan alam nan elok ini. Begitu sekilas gambaran peternakan Padang Mangateh yang kemudian ditulis dalam bahasa Indonesia menjadi Padang Mengatas.

Memang, tidak ada yang mengira ternyata di daerah Minangkabau memiliki kawasan padang rumput yang menyerupai peternakan-peternakan seperti di New Zeland atau Australia. Bahkan sempat juga menjadi area peternakan terbesar di Asia Tenggara. Bagi pengguna sosial media khususnya Instagram, tempat ini sudah tidak asing lagi. Bahkan banyak yang penarasan untuk dapat segera mengunjunginya.

Sebenarnya peternakan ini bernama Balai Pembibitan Ternak Unggul Hijau Pakan Ternak (BPTU-HPT) Padang Mengatas, cukup panjang memang. Singkatnya bisa juga panggil dengan nama Padang Mangateh. Sudah menjadi ikon tersendiri bila menyebut nama Padang Mangateh akan langsung teringat dengan hamparan padang rumput yang luas berisi ternak sapi yang menggembala secara bebas.

Nah, akhir bulan November 2015 lalu, saya bersama Aya, Ayu, Pace dan Ori pergi mengunjungi peternakan ini, untuk explore dan hunting foto sekaligus untuk liburan juga. Perjalanan Padang menuju Padang Mangateh yang memakan waktu yang cukup lama terbayarkan ketika sampai di peternakan ini.

Sempat pula salah alamat, hampir menuju jembatan kelok sembilan. Sebenarnya di antara kami tidak ada yang tahu pasti lokasi tempatnya, namun setelah bertanya kepada seorang teman yang dihubungi Aya via handphonenya, akhirnya kami sedikit tahu lokasinya dengan kluenya dari Batang Tabiak lurus saja.

Saat itu, kami sedang berada di Kota Payakumbuh. Dari sana kami terus melajukan kendaraan melewati simpang empat dekat pasar yang terdapat restoran cepat saji CFC kemudian belok ke kanan bila dari Kota Padang menuju Pasar Basah Kota Payakumbuh.

Sebelum melanjutkan perjalanan kami singgah di pasar tersebut untuk membeli kaset CD sebab di mobil tidak ada hiburan yang dicari Ori. Sambil menunggu ternyata kami berhenti di depan penjual jajanan tradisional. Ayu kemudian dilanjutkan saya langsung turun dari mobil, mencari jajanan untuk cemilan di atas mobil sekaligus dimanfaatkan untuk hunting foto kuliner juga.

Perjalanan dilanjutkan hingga melewati daerah Batang Tabik. Kami sempat bingung juga mencari lokasinya, namun untungnya pas dan tepat terlihat papan namanya. Dituliskan nama lengkap peternakan ini dan terdapat petunjuk arah menuju lokasi. Sekitar 2 meter dari jalan raya Payakumbuh-Lintau kemudian belok kiri, bila dari Kota Payakumbuh. Sebagai penandanya silahkan cari saja simpang Puskesmas Mungo. Menarikanya kondisi jalanan di daerah ini lurus saja tidak ada kelok yang ekstim sehingga cepat sampai ke lokasi.

Gerbang masuk peternakan Padang Mangateh.
Sesampainya di pintu gerbang yang memiliki atap begonjong ini, kami tidak bisa langsung masuk, sebab petugas kemanan peternakan mengabarkan, saat itu pengunjung sedang padat sehingga harus mengunggu dulu hingga jam 13.30. WIB.

Wah, kami sempat kecewa tidak bisa langsung masuk, namun apa boleh buat. Bersamaan dengan kami, memang banyak pengunjung yang datang, baik menggunakan motor atau mobil. Lantas kami memutar arah kembali ke luar area peternakan. Bertepatan juga saat itu, masuk makan siang dan kami mengisi perut dan salat zuhur terlebih dahulu.

Okey, akhirnya masuk juga ke areal peternakan ini. Sebelumnya Pace, saat itu yang mengendarai mobil kami turun. Ia melapor kepada petugas kemanan dan meninggalkan kartu identiasnya.

Sebenarnya cukup mudah untuk dapat mengunjungi peternakan ini, beralamat di Jalan Padang Mengatas, Kecamatan Luhak, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatra Barat. Berjarak sekitar 12 Km dari Kota Payakumbuh atau kira-kira 136 Km dari Kota Padang.

Panorama Kota Payakumbuh dan Kabupaten Limapuluhkota.
Secara geografis peternakan ini berbatasan dengan Nagari Mungo dan Nagari Bukit Sikumpar sebelah utara, dengan Gunung Sago sebelah selatan. Kemudian sebelah timur dengan Dusun Talaweh dan sebelah barat Nagari Sungai Kamuyang Timur.

Peternakan ini merupakan Unit Pelaksana Teknis Dirktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertenakan Republik Indonesia yang berperan dalam menghasilkan bibit ternak sapi potong unggul dan telah eksis sejak zaman kolonial Hindia Belanda pada tahun 1916.

Seperti yang saya baca dalam situs resmi peternakan ini bptupadangmengatas.com, awal mulanya balai pembibitan ternak ini, hanya mengembangkan satu jenis ternak saja yaitu kuda, namun pada tahun 1935 dikembangbiakan juga Sapi Zebu dari Benggala India. Sayangnya perjalanan peternakan ini tidak berjalan mulus seperti saat ini.

Pada zaman Kemerdekaan sekitar tahun 1945 –1949 aktivitas peternakan sempat terhenti, namun melihat potensinya, pada tahun 1950 oleh Wakil Presiden Dr. Mohammad. Hatta mengaktifkan kembali dan merenovasi peternakan ini. Sekitar tahun 1951 – 1953 balai ini berfungsi sebagai Stasiun Peternakan Pemerintah dengan nama Induk Taman Ternak (ITT) Padang Mengatas.

Pada tahun 1955 ITT Padang Mengatas merupakan stasiun peternakan yang terbesar di Asia Tenggara, dengan memelihara ternak berupa kuda, sapi, kambing dan ayam. Ketika pergelokan PRRI sekitar tahun 1958 –1961, lokasi balai pembibitan ternak dijadikan sebagai basis pertahanan PRRI sehingga menjadi rusak berat akibat peperangan tersebut.

Kemudian pada tahun 1961, Pemerintah Provinsi Sumatra Barat kembali membenahi balai pembibitan ternak ini. Sekitar tahun 1973 –1974 Pemerintah Jerman mengadakan kajian di hingga berujung dengan kegiatan kerjasama pembangunan kembali balai pembibitan ternak ini antara Pemerintah RI dan Jerman melalui proyek Agriculture Development Project (ADP ) yang dimulai sejak tahun 1974 hingga 1978.

Ketika proyek ADP berakhir, balai pembibitan ternak ini diserahkan kepada Departemen Pertanian dengan nama Balai Pembibitan Ternak – Hijauan Makanan Ternak (BPT – HMT) Padang Mengatas. Hal ini sesuai dengan SK Menteri Pertanian RI No. 313/Kpts/Org/1978 dengan wilayah kerja 3 propinsi yaitu Sumatra Barat, Riau dan Jambi. Dengan segala kegiatan oprasionalnya dibiayai oleh Pemerintah Provinsi Sumatra Barat dan pemerintah pusat. Barulah tahun 1985 seluruh pembiayaan diambil alih oleh pemerintah pusat.

Ada juga yang menceritakan, pada zaman Orde Baru kegiatan peternakan mulai berkembang kembali dan terjadi peningkatan populasi ternak sapi Zebu Benggala India yang mencapai ribuan serta menjadi salah satu pembibitan sapi potong yang terbesar di Indonesia. Sayangnya, pada era Reformasi peternakan ini kembali rusak.

Suasana peternakan Padang Magateh
Pada tahun 2002 balai pembibitan ternak ini berubah nama menjadi Balai Pembibitan Ternak Unggul (BPTU) Sapi Potong Padang Mengatas. Hal ini berdasarkan keputusan Menteri Pertanian RI No.292/Kpts/OT.210/4/2002 tanggal 16 April 2002. Untuk wilayah kerjanya diperluas lagi meliputi seluruh propinsi di Indonesia.

Sampai akhirnya pada 2011 silam, Kementerian Pertanian RI kembali mengambil alih peternakan ini dan mengembalikan fungsinya sebagai pusat pembibitan sapi nasional. Kemudian sekitar Mei 2013, perternakan ini kembali berubah nama menjadi Balai Pembibitan Ternak Unggul Hijauan Pakan Ternak (BPTU HPT Padang Mengatas) dengan komoditas ternak yang dipelihara berupa Sapi Simmental, Sapi Limousin dan Sapi Pesisir yang merupakan sapi asli dari Sumatra Barat.

Peternakan ini juga pernah dikunjungi oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada Oktober 2014 lalu dan ia sangat kagum melihat peternakan ini. Kemudian pada Oktober 2015, Presiden Jokowi juga sempat menyambangi peternakan ini dan ia sangat mengharapkan sistem peternakan padang rumput ini bisa diikuti dan menjadi percontohan oleh daerah lainnya di Indonesia.

Setelah melewati gerbang, kita akan disambut dengan pendopo yang mungkin digunakan untuk area sterilisasi bagi kendaraan yang masuk. Awal masuk balai pembibitan ternak ini sudah terlihat sebagian hamparan padang rumput. Selanjutnya akan melewati bangunan perkantoran dan area kandang.

Terlihat juga satu bangunan sisa zaman belanda yang masih bertahan. Menunjukan peternakan ini memang sudah yang sangat tua memiliki sejarah yang cukup panjang telah melintasi berbagai macam generasi dimulai zaman kolonial hingga zaman sosial media saat ini.

Hamparan padang rumput peternakan Padang Mangateh.
Kami sempat binggung juga arah untuk ke padang rumput, sebab yang menjadi daya tarik bila ke peternakan ini adalah padang penggembalaan. Tenang saja di sana tidak akan tersesat dan hilang arah, pengelola balai pembibitan ternak ini sudah dengan melengkapi petunjuk arah sehingga pengunjung yang datang tidak akan kebingungan.

Luar biasa sekali, wajar saja bila peternakan ini bernuansa layaknya peternakan di New Zealand. Total luas area peternakan ini mencapai 280 Ha. Cukup luas bangetkan? Dengan pemanfaatan areanya meliputi untuk padang rumput dan pasture yang luasnya mencapai 268 Ha, untuk kandang untuk kandang, kantor, kantin, musala, perumahan dan jalan sekitar 12 Ha.

Memasuki area padang penggembalaan kita serasa berada di luar negeri. Sepanjang mata memandang, hamparan rerumputan hijau yang luas menyambut di sisi kanan dan kiri. Kendaraan berjalan di tengahnya. Sekumpulan sapi bebas berkeliaran, mencari makan, hingga berkembang biak tanpa dibatasi oleh sekat-sekat di kandang. Hanya saja pagar kawat yang tingginya lebih selayang dari sapi mengelilingi tiap petak area padang penggembalaan ini. Kabarnya, jumlah ternaknya tiap tahunnya mengalami peningkatan. Untuk saat ini, terdapat 1.250 ekor sapi dan 500 ekor di antaranya tengah mengandung.

Panorama Gunung Sago.
Landscape peternakan ini bergelombang dan berbukit landai dengan ketinggian sekitar 700-900 meter dari permukaan laut. Meski berada di dataran yang cukup tinggi, peternakan ini memiliki iklim tropis. Selain menyajikan hamparan rumput layaknya permadani, peternakan ini juga akan menampilkan panorama alam pegunungan dan bukit-bukit yang mengitari peternakan ini, sebab persis di kaki Gunung Sago.

Bila cuaca cerah, dari kejauhan akan terlihat panorama Kota Payakumbuh yang menambah keindahan tempat ini. Pesona alam yang dihadiran sangat menyegarkan mata. Cocok menjadi tempat untuk melepaskan penat.


Saya sudah tidak sabar untuk bertatap muka dengan sapi-sapi ini dan mencoba menikmati sensasi lukisan alam yang bila dipotret sungguh mempesona. Memang sih, kebanyakan pengunjung yang datang hanya untuk bernasis ria berlatarkan pemandangan padang penggembalan dan kemudian akan upload ke akun sosial media ketimbang untuk mendalami soal ilmu ternak. Hehe.

Kaki ini telah turun dari mobil dan mengijakan tapak sepatu di jalan peternakan yang sudah dibeton jauh dari kesan jalan berbatu dengan tanah merah akan becek bila musim hujan dan akan merepotkan sekali. Berbada dengan peternakan Padang Mengatas, di sepanjang jalannya telah diaspal dan ada yang dibeton sehingga mudah dilalui kendaraan.

Perlu diingat jalannya hanya untuk dilalui oleh satu mobil saja, sehingga bila berselisih maka cukup ribet untuk mencari tempat nge-track-nya. Lebih enak sih ke sini dengan menggunakan motor, bisa leluasa untuk berhenti ketika menemukan spot yang asik diabadikan. Rasanya hamparan padang rumput ini seperti dalam adegan film india ketika pemainnya sedang asik bernyanyi dan bernari. Bahkan saat itu juga ada pengunjung yang memanfaatkannya untuk menjadi lokasi foto pra-wedding.

Tidak terasa hari mulai petang. Awan mendung yang menyelimuti, tetesan air hujan yang perlahan turun serta gemuruh di langit yang terdengar mengingatkan kami untuk segera kembali pulang ke Padang.

Jujur saja beberapa jam di peternakan ini rasanya tidak cukup. Banyak hal yang bisa dilakukan selain untuk berfoto. Seperti melihat sapi yang digembalakan dari satu petak ke petak lainnya atau bercerita bersama karyawan peternakan mengenai kehidupannya selama melakukan aktivitas di sini hingga mungkin kita bisa juga ikut memberikan makan pakan kepada sapi. Akan lebih seru bukan?

Ada beberapa hal yang perlu diingat bila ingin mengunjungi peternakan ini, lebih baik datang pagi hari agar dapat menikmati udara dan suasana alam yang masih segar karena udara pagi itu sehat, serta untuk menghindari cuaca yang dapat berubah dengan tiba-tiba ketika siang menjelang sore.

Suasana peternakan Padang Magateh


Peternakan ini memilik iklim tropis seperti wilayah di Sumatra Barat lainnya sehingga disarankan menggunakan pakaian lengan panjang atau jaket serta menggunakan tabir surya untuk menggurangi sengatan matahari.

Jangan lupa membawa minuman dan makanan sebab di areal peternakan tidak ada kedai, meskipun ada kantin itu pun jarakanya cukup jauh. Mengingat lebar jalan peternakan ini cukup kecil, maka carilah tempat parkir yang aman dan tidak mengganggu jalan pengunjung lain.

Ini yang lebih penting lagi, abadikan moment indah selama di perternakan ini, potret sebanyak banyak-banyaknya. Rugikan, bila ke tempat ini hanya melihat-lihat saja. Untuk itu, bawa baterai cadangan kamera dan powerbank.

Nah ini juga, jangan mengganggu ternak, merusak pagar dan rumput. Apalagi jika membuang sampah sembarangan, sebab hampir tiap titik di padang penggembalaan terdapat tempat pembuangan sampah.

Peternakan Padang Mangateh seakan menjadi tempat objek wisata baru yang menarik banyak pengunjung. Peternakan peninggalan kolonial ini berpotensi juga dikembangkan menjadi tempat agrowisata yang tidak hanya dikunjungi oleh para peternak dan akademisi baik dalam maupun luar negeri saja, namun bisa menjadi salah satu destinasi favorit bagi keluarga dikemudian hari. Yuk jelajah nagari awak.


Tulisan ini dimuat pada Koran Harian Singgalang terbitan Minggu, 20 Desember 2015.

**Sekarang ini Peternakan Padang Mangateh ini tidak terbuka untuk umum dan masih melayani kunjungan yang bersifat resmi.
————————————————————————————————————————————————————
Bayu Haryanto – biasa disapa Ubay. Penikmat senja yang bermimpi untuk explore Indonesia dengan tagline #JelajahNagariAwak. Pemotret yang suka dipotret. Perngkai kata dalam blog kidalnarsis.blogspot.com. Jejaring sosial Twitter @beyubay dan Instagram @beyubaystory.

Traveling  Explore  Journalism  Photograph  Writer  Share  Inspire

 ©Hak Cipta Bayu Haryanto. Jika mengkopi-paste tulisan dan foto ini di situs, milis, dan situs jaringan sosial harap tampilkan sumber dan link aslinya secara utuh. Terima kasih.

15 comments:

  1. Replies
    1. Makasih Uni.
      Kapan-kapan jelajah yuk :D

      Delete
    2. This comment has been removed by a blog administrator.

      Delete
  2. Replies
    1. Hahaha makasih bi.
      Silahkan datang ke sini

      Delete
  3. Rancak2 pemandangan nyo uda... boleh dishare dih :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. boleh uda, silahkan saja.
      salam kenal uda Ade

      Delete
  4. salam. perlu ada surat lawatan ke jika ingin kesini? saya dapat khabar dr supir sy perlu ada surat lawatan ke sini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. ia betul bu, sejak awal tahun 2016 tidak boleh masuk untuk masyarakat umum. kecuali bila membuat surat izin terlebih dahulu.

      Delete
  5. catat dulu lah salah satu tujuan wisata berikutnya...

    orang Padang asli kah?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe sipahkan uda.
      Ia uda, saya asli padang.
      Salam kenal y uda.
      Terima kasih udah berkunjung

      Delete
  6. gak dibuka utk umum lagi kenapa ya ??? apa takut hewannya jadi stress atau ada pengunjung yang bikin masalah ??

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ia uni salah satunya akibat perilaku pengunjung. Tapi tempat imi memang bukan untuk destinasi wisata uni. Tapi berpotensi juga dikembangkan utk destinasi wisata asal ada standar dlm pengelolaannya.

      Saat ini bisa dikunjungi ketika weekend dan jumlahnya terbatas.

      Delete
  7. Angle fotonya bagus bangett.. Ambil di bagian mana aja nihhh? ^_^

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...