Sunday, August 11, 2013

Love Letter

Dear my prince,
Yang tertulis itu abadi, yang terucap itu akan hilang dibawa angin, pepatah spanyol berlaku untuk hatiku yang pengecut ini. Tak semua hal yang terucap itu nyata, kadang kala tersimpan dusta, mungkin tulisan yang tak indah ini yang hanya mampu ungkapkan rasaku yang selama ini terpendam. Pengecut memang !
Ketika hatiku tak mampu berkata, tak mampu berjalan, dan tak mampu bersuara lagi. Apa aku mesti diam? Bersemayam dalam rindu dan rasa yang tak bisa aku ungkapkan, menyimpan  indahnya senyummu dibalik kalbuku yang tak bisa kusentuh.

Sunday, July 28, 2013

Kopi Da’jeng

Sabtu malam itu hujan mengguyur tempat perkemahan kami  dan mengakibatkan bagian bawah tenda barak tersebut kebanjiran. Setelah cukup reda, kami sebagai senior saat itu menyuruh para juniornya untuk membersihakan terpal yang menjadi alas tenda barak.

Maman menyuruh Nanda juniornya angktan 2012 untuk mengelap terpal dengan harapan bisa nantinya bisa kering itu terpal. Usai menyuruh maman pergi ke tempat seksi konsumsi, namun sebelum sampai ke sana. Tiba tiba terdengar suara dari tempat junior aku itu yang sedang membersihkan terpal.

“Da’jeng, kopi ciek”

Sunday, July 21, 2013

Rindu Malam

Rindu malam. Ya ini sebuah nama tempat makan kaki lima yang berada di seputaran Siteba, Kota Padang tepatnya dekat jembatan Siteba. Tempat makan ini bernama Nasi Goreng Rindu Malam yang menyediakan tentunya nasi goreng, selain itu ada mie rebus, bihun, kwetiaw.

Suatu malam, adikku Febri Mai Yulis Sandra mengajakku makan malam. Ia mengajak makan nasi goreng dan di lokasi ini lah aku dipertemukan dengan nasi goreng yang berbeda dari yang lainnya sebab pembuat dan perciknya bukan lah orang minang tapi orang jawa.

Friday, January 4, 2013

Tugu Perjuangan Permindo




———————————————————————————————————————————————
Bayu Haryanto – biasa disapa Ubay. Penikmat senja yang bermimpi untuk explore Indonesia dengan tagline #JajahNagariAwak. Pemotret yang suka dipotret. Perngkai kata dalam blog kidalnarsis.blogspot.com. Jejaring sosial Twitter @beyubay dan Instagram @beyubaystory.

Traveling  Explore  Journalism  Photograph  Writer  Share  Inspire

 ©Hak Cipta Bayu Haryanto. Jika mengkopi-paste tulisan dan foto ini di situs, milis, dan situs jaringan sosial harap tampilkan sumber dan link aslinya secara utuh. Terima kasih.

Sisi lain Pemandangan di Sungai Kota Padang



***Keindahan yang terkadang terlewatkan, suatu pagi di pusat Kota Padang.

———————————————————————————————————————————————
Bayu Haryanto – biasa disapa Ubay. Penikmat senja yang bermimpi untuk explore Indonesia dengan tagline #JajahNagariAwak. Pemotret yang suka dipotret. Perngkai kata dalam blog kidalnarsis.blogspot.com. Jejaring sosial Twitter @beyubay dan Instagram @beyubaystory.

Traveling  Explore  Journalism  Photograph  Writer  Share  Inspire

 ©Hak Cipta Bayu Haryanto. Jika mengkopi-paste tulisan dan foto ini di situs, milis, dan situs jaringan sosial harap tampilkan sumber dan link aslinya secara utuh. Terima kasih.

Sepintas Danau Singkarak Bercerita






***Danau Singkarak, Sumatra Barat pesona tiada duanya. Damai dalam ketenangan dan indah pada massanya. 15 November 2012.


———————————————————————————————————————————————
Bayu Haryanto – biasa disapa Ubay. Penikmat senja yang bermimpi untuk explore Indonesia dengan tagline #JajahNagariAwak. Pemotret yang suka dipotret. Perngkai kata dalam blog kidalnarsis.blogspot.com. Jejaring sosial Twitter @beyubay dan Instagram @beyubaystory.

Traveling  Explore  Journalism  Photograph  Writer  Share  Inspire

 ©Hak Cipta Bayu Haryanto. Jika mengkopi-paste tulisan dan foto ini di situs, milis, dan situs jaringan sosial harap tampilkan sumber dan link aslinya secara utuh. Terima kasih.

Monday, December 31, 2012

Aku dan Sore itu Bersama Garis Senja






Barisan awan, gulungan ombak berpadu dengan lembayung senja
*Pantai Purus Kota Padang, 09 Oktober 2011


Aku berdiri sersandingan dengan kilauan senja
*Pantai Purus Kota Padang

Senja begitu indahnya mendamaikan jiwa jelang pergantian hari
*Pantai Purus Kota Padang, 16 Oktober 2010

Senja sebuah cerita dari perputaran waktu, dari perputaran hari. Dan kala senja memang selalu dinanti..


———————————————————————————————————————————————
Bayu Haryanto – biasa disapa Ubay. Penikmat senja yang bermimpi untuk explore Indonesia dengan tagline #JajahNagariAwak. Pemotret yang suka dipotret. Perngkai kata dalam blog kidalnarsis.blogspot.com. Jejaring sosial Twitter @beyubay dan Instagram @beyubaystory.

Traveling  Explore  Journalism  Photograph  Writer  Share  Inspire

 ©Hak Cipta Bayu Haryanto. Jika mengkopi-paste tulisan dan foto ini di situs, milis, dan situs jaringan sosial harap tampilkan sumber dan link aslinya secara utuh. Terima kasih.

Wednesday, December 26, 2012

Bisnis Plan: Kerupuk Tempe Balado Buyuang


1. Latarbelakang
Siapa yang tak mengenal tempe. Makanan hasil fermentasi kedelai dengan jamur Rhizopus. Sp ini telah menjadi makanan yang mendunia, pasalnya semua kalangan dari yang muda hingga tua menyukainya.

Sebagai makanan khas asli indonesia Tempe biasanya dinikmati dalam bentuk olahan seperti digoreng sebagai lauk atau pelengkap teman makan nasi di keseharian. Selain itu juga, olahan tempe bisa dijadikan keripik namun kali ini saya akan mencoba menginovasikan tempe menjadi kerupuk dengan rasa balado.

Friday, November 2, 2012

Melihat Mercusuar "Berlubang Jepang" di Padang


Penah mendengar cerita Kota Padang memiliki lubang (goa) peninggalan penjajahan Jepang? Ya, tentunya cerita tersebut benar adanya. Siapa sangka lubang Jepang ini telah ada berpuluh-puluh tahun lamanya dan baru ditemukan di Kota Padang berkat laporan sejumlah masyarakat yang menemukan peninggalan sejarah tersebut.

Siang itu, saya berkesempatan melihat langsung Lubang Jepang yang berdampingan dengan menara sistem navigasi laut (Mercusuar). Mudah sekali menemukan lokasi bersejarah ini, persis di jalan lintas Padang-Painan.


Tepatnya di Kelurahan Sungai Beremas, Kawasan Bukit Lampu, Kecamatan Bungus Teluk Kabung, sekitar 12 kilometer dari pusat Kota Padang, Sumatra Barat. Kita bisa menandainya dengan melihat menara yang memiliki tinggi hampir 10 meter ini.

Hampir 30 menit berangkat dari pusat Kota Padang dan setelah hampir sampai saya mencoba menanyakan lokasi Mercusuar berlubang Jepang ini kepada masyarakat sekitar.

"Lubang Jepang nya ada dua yang di bawah situ satu dan di sana satu," ujar salah satu warga kepada kami.


Lantas kami bergegas memarkirkan kendaraan roda dua ini dan berjalan menuju gapura yang pagarnya tertutup. Kawasan ini bernama Mensu Bramas. Di bawah Dirjen Perhubungan Laut, sub-bidang navigasi Teluk Bayur.

Mercusuar ini dikabarkan sudah berdiri sejak tahun 1916 oleh pemerintah Hindia Belanda. Pada bagian menaranya memiliki diameter sekitar 2 meter dan bagian bawahnya 4 meter. Berada diketinggian 15-30 mdpl.

Hasil data dari BPCB Batusangkar menuliskan, menara suar ini berdiri di atas bangunan berbentuk persegi panjang berukuran 7 x 10 m. Menara ini terbuat dari susunan bata dengan ketebalan dinding 30 cm. Tinggi dari diameter bawah ke atas 9,15 m.  Untuk menuju ke puncak menara dapat dilalui dengan menggunakan tangga besi dengan 58 buah anak tangga.

Pada bagian puncak menara inilah diletakkan lampu suar yang dilindungi dengan bangunan baja. Pada lampunya terdapat tulisan, mungkin nama pabrik pembuatnya yaitu Opperman GLARS LTD Well.

Saat itu saya tidak sendiri tapi bersama tiga teman lainnya. Kami membuka pagar dan mencari petugas yang menjaga kawasan ini. Kemudian kami bertemu dengan Zulkarnain (41) salah satu petugas Navigasi Mercusuar di rumah dinasnya.

"Mau lihat lubang Jepang ya?" tanyanya dengan ramah kepada kami.

Sambil berjalan menuju lubang Jepang tersebut, Zulkarnain menceritakan sedikit sejarah Mercusuar dan lubang Jepang ini. Menurutnya, Mercusuar ini telah ada sejak zaman penjajahan Belanda yang digunakan untuk memantau sistem navigasi kapal. 

"Saya tidak tahu persis kapan menara navigasi ini didirikan, soalnya saya sudah tahunya turun temurun dari petugas lainnya yang menceritakan sejak zaman Belanda sudah ada," katanya sembari menunjuk menara yang berwarna putih itu.

Hamparan rerumputan yang rapi dan tertata kami lewati. Zurkarnain melanjutkan ceritanya setelah Belanda pergi dari Kota Padang, mereka meninggalkan Mercusuar ini berserta satu rumah. Kemudian masuklah penjajah baru dari negara Jepang dan mengambil alih kawasan ini.


Pada masa penjajahan Jepang tepatnya saat Perang Dunia II. Mercusuar ini selain untuk mengawasi kawasan perairan Teluk Bayur juga digunakan untuk sistem pertahanan dengan membangun benteng dan lubang-lubang pertahanan bagi tentara Jepang.

Mecusuar ini sempat hancur akibat di bom saat perang dengan tentara Inggris. Padalah menurut peraturan internasional kawasan navigasi seperti ini sama halnya dengan kawasan dengan tim medis yang berada pada daerah putih atau damai.

Namun, dari kelicikan penjajahan Jepang itu, mereka menembak kapal-kapal yang diduga musuh saat memasuki teluk Bayur sehingga wajar saja jika dihancurkan oleh tentara Inggris. Saat ini puing-puingnya masih terlihat di depan Mercusuar baru. Belanda atau Jepang memang sudah merencanakan untuk menguasai Kota Padang sehingga wajar saja banyak peninggalan zaman penjajahan.


Pada massa pemerintahan presiden Soeharto Mercusuar ini dipugar kembali dari Proyek Pelita Nasional tahun 1974/1975 yang dilaksanakan oleh CV. Ubani Padang dan diresmikan oleh Dirjen Perla pada tahun 1975.

"Memasuki menara, kita akan melalui tangga melingkar menuju puncaknya. Lampu yang berada di puncak tersebut masih asli sisa peninggalan zaman Belanda," ujar Zurkarnain pria asli Kota Padang ini.


Pemandangan teluk Bayur dengan jelas bisa kita nikmati. Menuruni satu persatu anak tangga akhirnya kami sampai mulut lubang tersebut. Ternyata letaknya berada di bawah mercusuar.

"Mau lihat ke dalam?" tanyanya pada kami.

Lantas, Zulkarnain kembali ke atas untuk mengambil kunci pintu lubang Jepang-nya. Dulunya, sebelum kawasan ini dan pintu masuk lubang Jepang-nya dipagar banyak masyarakat umum mengujungi tempat ini apalagi banyaknya muda mudi yang berpacaran dan berbuat mesum sehingga pengelola kawasan ini memagar semuanya demi keamanan dan kenyamanan bersama.


Buktinya terlihat di mulut lubang Jepang ini, banyak coretan-coretan dari tangan-tangan jahil yang merusak keindahan tempat ini. Padahal dari sini kita dapat menambah pengetahuan yang mungkin tidak diajarkan di bangku sekolah serta melihat pemandangan kapal-kapal yang berlalulangan bersandar di teluk Bayur.

Lubang Jepang ini memiliki empat pintu, dua pintu berada dalam kawasan Mensu Bramas. Dua pintu lagi berada di dekat rumah penduduk. Saat memasuki lubang Jepang suasananya cukup sejuk dan dingin.


Di dalam lubang Jepang terlihat kotor akibat jarang dibersihkan dan menjadi sarang kelelawar. Lubang ini terbuat dari beton yang masih kokoh dengan tebalnya hampir 1 meter dan memiliki memiliki lorong ± 250 meter.

"Sedikitnya tiga jumlah kamar yang ada pada masing-masing gua yang memiliki panjang lorong antara 50-100 meter. Sedangkan, tinggi gua tersebut, berkisar 170 cm, yang memang sengaja disesuaikan dengan tinggi orang Jepang," jelasnya.

Lubang Jepang ini memiliki empat buah pintu masuk, di sisi utara, selatan, timur, dan barat. Pintu pada sisi barat merupakan pintu yang paling besar, kemungkinan pintu utamanya. Lorong pada lubang ini terdapat dua buah, satu buah mengarah ke selatan dan satu buah lagi mengarah ke timur, masing‐masing sepanjang kurang lebih 50 m. 


Pembangunan Menara Suar Bukit Lampu tidak terlepas dari pembangunan Pelabuhan Teluk Bayur pada tahun 1890‐an oleh Belanda sebagai sarana pendukung utama pelayaran di Pelabuhan Teluk Bayur.

Menara Suar Bukit Lampu sampai sekarang masih menjadi salah satu menara suar terpenting di pantai Sumatera Barat khususnya di kawasan Teluk Bayur. Keberadaannya tidak terlepas dari peningkatan status Pelabuhan Teluk Bayur sebagai pelabuhan internasional di wilayah barat Pulau Sumatra pada tahun 2000‐an.

Di dalam kawasan Mensu Bramas ini selain menyuguhkan pemandangan laut dan pesona bangunan bersejarahnya seperti menara suar yang terdapat benteng dan lubang pinggalan penjajahan Jepang juga terdapat meriam namun yang tersisa hanya kedudukan meriam. 

Sebagai tempat bersejarah sudah sepatutunya pemerintah daerah memperhatikan aset edukasi ini karena banyak dari masyarakat Kota Padang bahkan Sumatra Barat tidak mengetahui lokasi ini. Walaupun kawasan ini tertutup untuk umum kita dapat meminta izin terlebih dahulu kepada petugas agar dapat masuk ke lokasi mercusuar ini.

Dipubikasikan oleh WawasanProklamator.com dan detik Travel
Dokumentasi foto tahun 2012 dan 2016


———————————————————————————————————————————————
©Hak Cipta Bayu Haryanto. Jika mengkopi-paste tulisan dan foto ini di situs, milis, dan situs jaringan sosial harap tampilkan sumber dan link aslinya secara utuh. Terima kasih.