Sunday, August 5, 2018

Menyusuri Lubang Jepang dan Meriam Bukit Lampu Padang


Tidak ada yang tahu pasti kapan tentara Jepang membangun pertahanan di Kota Padang. Pastinya jejaknya dapat dijumpai hingga saat ini. Lokasinya tersebar hampir di penjuru kota. Termasuk benteng pertahanan Kawasan Bukit Lampu di Kelurahan Sungai Beremas, Kecamatan Bungus Teluk Kabung, sekitar 15 kilometer dari pusat Kota Padang.

Dari kejauhan awan gelap bergerak menjauh dari Pelabuhan Teluk Bayur menuju pusat kota. Silih berganti kendaraan melalui jalan Raya Painan-Padang.

Bersama rekan-rekan Komunitas Padang Heritage, saya melakukan explore ke tempat ini. Perjalanan dimulai dari rumah saya, kala itu ada Bang Rilci, Uty, dan Haris. Kami biasanya menggunakan motor untuk explore.

Kegiatan ini merupakan program mengekplorasi tempat-tempat bersejarah yang ada di Kota Padang. Biasanya melakukan survei, pendataan, dokumentasi, dan tentunya sambil liburan juga. Kegiatan ini bernama Padang Heritage Explore.



Saya berada diposisi paling belakang dan yang lainnya sudah sampai di lokasi. Maklum saja, mata saya ini suka jelalatan liat ke kanan dan ke kiri.

Selama perjalanan akan disuguhan pemandangan Teluk Bayur, gugus pulau-pulau kecil serta kapal-kapal yang menciptakan suasana yang menarik. Apalagi untuk objek latar foto. Ciamik. 

Benteng pertahanan Kawasan Bukit Lampu ini merupakan peninggalan tentara Jepang yang berada di area Mensu Bramas, satu-satunya mercusuar bersejarah di Kota Padang.

Sekilas mengenai mercusuar ini dapat dibaca pada tulisan saya yang berjudul Melihat Mercusuar "Berlubang Jepang" di Padang ini. 

Sebenarnya Lubang Jepang atau Lobang Japang di Padang tidak begitu terkenal seperti di Bukittinggi yang telah menjadi salah satu destinasi wisata unggulannya. Bahkan menjadi rute touch relay api obor Asian Games 2018. Keren kan!


Nasib Lubang Jepang di Padang memang belum seberuntung itu. Masih tersuruk disemak-semak perbukitan dan menunggu sentuhan. Bila ditelisik lebih jauh, Kota Padang tempo dulu merupakan basis pertahanan dan perniagaan yang terpenting di pesisir pantai barat Sumatra. Berbagai macam bangsa asing mencoba menduduki daerah ini, termasuk tentara Jepang.

Baca: Kota Tua Padang Kisah Lampau dari Hangatnya Keberagaman dan Harapan

Kabarnya, tentara Jepang menginjakan kakinya di Kota Padang 17 Maret 1942. Dalam selang waktu yang singkat, tak kurang dari 5 tahun sudah banyak membangun benteng pertahanan mulai dari pesisir pantai, dalam kota hingga ekspansi jauh ke daerah pedalaman Minangkabau seperti di Kabuoaten Padang Pariaman, Kota Bukittinggi dan Kabupaten Tanah Datar.

Mengutip artikel yang ditulis Fetra Yurita, dkk, terowongan atau Lubang Japang ini merupakan terowongan bersejarah yang panjang bagi bangsa Indonesia umumnya karena Lubang Japang ini merupakan suatu lubang perlindungan atau tempat persembunyian tentara Jepang dalam menghadapi perang. Lubang Japang dibangun dengan tujuan kepentingan pertahanan tentara Jepang dalam Perang Dunia II dan perang Asia Timur Raya.

Sensasi Telusur Lubang Jepang Mensu Bramas.



Di Kawasan Bukit Lampu ini banyak memiliki benteng pertahanan yang terdiri dari terowongan yang terdiri dari ruang persembunyian atau bungker, Battary, Pilbox dengan meriamnya. 

Motor telah berbaris rapi terparkir. Tidak berapa lama ada seorang pria paruh baya yang menghampiri kami. Sebut saja Mak Uniang Izul. Kami berbincang-bincang cukup banyak perihal mercusuar dan lubang Jepang ini.


“Mau masuk ke lubang Japang-nyo? Bia apak antaan,” ajaknya dengan menggunakan bahasa Minangkabau. Tanpa berpikir panjang tentu saja kami, langusung setuju. 

Berbekal lampu senter dari ponsel, kami memulai dari penelusuar dari mulut Lubang Jepang yang tidak jauh dari gerbang masuk mercusuar ini. Satu per satu anak tanggal telah dilalui kemudian masuk ke dalam terowongan yang tidak terlalu tinggi dan lebar. Maklum khusus untuk Tentara Jepang. Tingginya sekitar 180 m dan lebarnya 150 m.


Tidak berapa lama melangkah sudah berjumpa satu bungker yang luasnya sekitar 3 x 3 m yang posisinya sebelah kiri. Kemudian melangkah lagi akan berjumpa pintu keluar yang berpagar berada sebelah kanan, karena langsung menuju jurang. Dilanjutkan mengikuti terowongan ini akan keluar di bawah mercusuar lama yang menghadap ke laut.

Tempat ini bernama pilbox. Dulu ada meriam seperti di Gunuang Padang yang berfungsi sebagai bangunan pertahanan yang memiliki dinding tebal yang tahan peluru dan bom. Posisinya sedikit terbenam dalam tanah dan sedikit terlihat ke permukaan.



Dari pilbox ini masuk lagi ke terowongan yang posisinya sebelah kanan. Tidak berapa lama berjumpa kembali dengan bungker yang lumayan kecil dengan luas 2 x 1 m. Perjalanan dilanjutkan cukup jauh hingga berjumpa pintu keluar sebelah kiri yang sudah ditimbun. 

Tidak berapa lama ada juga bungker yang luasnya sekitar 3 x 3 m yang posisinya sebelah kiri hingga akhirnya terlihat pintu keluar dan kami sampai kembali ke permukaan yang berada di ujung rumah dinas petugas Mercusuar ini.


Memasuki Lubang Jepang ini cukup mendebarkan. Sudah dipastikan gelap, senyap, lembab dan kondisinya dingin. Untungnya banyak ventilasi udaranya yang berfungsi dengan baik. Agak khawatir ada ular dan kalajengking, tapi berdoa saja dengan niat yang baik.

Dinding Lubang Jepang ini terbuat dari campuran semen, kerangka besi dan batuan. Cukup keras dan tebar sekitar 1 m, tidak begitu terlihat retakan terlebih pasca gempa 30 September 2009 silam. Sayangnya, dindingnya dikotori oleh aksi vandalisme oleh okmum yang tidak bertanggungjawab akan menjaga kelestarian situs bersejarah ini.



Jejak Tesembunyai Lubang Jepang dan Meriam Bukit Lampu



Usai menyusuri Lubang Jepang di Kawasan Mensu Bramas, kami diajak oleh Mak Uniang Izul untuk melihat meriam yang berada di area perkebunan masyarakat. Lokasinya tidak jauh dari mercusuar. Sekitaran tempat ini banyak terlihat bungker-bungker dan lubang ventilasi. Ini sebagai petanda ada terowongan di bawahnya. 

Saya sangat terkagum dan sedih melihat semua ini, karena Padang, kota tercinta ini menyimpan banyak situs-situs peninggalan sejarah yang kondisinya sangat memperihatinkan dan terancam.

Lubang Jepang di sini juga menyerupai di Mensu Bramas. Kami tidak bisa masuk ke dalam lubang Jepang, karena kondisinya jarang dijamah dan sudah sore pun.


Kami terhenti di pilbox dan masih beruntung sekali masih bisa melihat meriam yang masih gagah menghadap ke lautan. Saya berpikir ada banyak meriam kecil ternyata meriam yang besar dengan daya jangkauan yang jauh. Kabarnya, dulu ada banyak meriam kecil, tapi sudah hilang. Uh.

Bukit Lampu ini posisinya memang sangat starategis menjadi benteng pertahanan, sebab dapat diarahkan ke Teluk Bayur atau ke Samudera Hindia atau ke Teluk Sirih.

Wajar posisi mercusuar dibuat di sini oleh Pemerintah Kolonial Hindia Belanda. Wajar juga tentara Jepang membuat benteng pertahanan. Kami pun iseng-iseng mencari tahun pembuatan meriamnya dan akhirnya bertemu sekitar 1898.


“Di bawah masih ada juga meriam seperti ini dekat laut, terowongan ini terhubung dari sini ke Pantai Nirwana hingga sampai Painan juga,” ceritanya Mak Uniang Izul dengan bahasa Indonesia yang terpatah-patah.

Baca: Meneropong Kota Tua Padang bersama Padang Heritage

Memang literatur soal peninggalan penjajahan Jepang di Kota Padang sangat minim. Saya sudah mencarinya dan memang terbatas. Dengan menjelajah, setidaknya dapat melihat langsung dan membandingkan sehingga menambah khasanah kepurbakalaan di Kota Padang.

Petang menjemput. Langit yang sendu semakin menjadi. Sesendu hati ini melihat potensi yang besar begitu saja dibiarkan. Mutiara terpendam yang kian terbenam. Semoga saja ada perhatian kelaknya. Kami pun kembali ke Mensu Bramas.

Ini sepenggal perjalanan Padang Heritage Explore. Masih ada jejak tempo dulu yang harus dijemput.

Baca: Perjalanan Explore Cagar Budaya di Minangkabau
——————————————————————————————————————————————————
©Hak Cipta Bayu Haryanto. Jika mengkopi-paste tulisan ini di situs, milis, dan situs jaringan sosial harap tampilkan sumber dan link aslinya secara utuh. Terima kasih.

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...