Monday, May 20, 2024

Lembah Anai: Pesonal Alam, Banjir Bandang dan Jalur Eksotis Kereta Api

Banjir Bandang Lembah Anai

Banjir bandang yang melanda Kabupaten Agam dan Kabupaten Tanah Datar pada 11 Mei 2024 malam itu, memberikan dampak yang cukup besar bagi masyarakat, terutama infastruktur. Banjir bandang ini salah satu sebabnya dampak hujan lebat di puncak Gunung Marapi yang membawa material hasil erupsi atau dikenal dengan lahar dingin.

Dampak besar yang dirasakan adalah rusaknya jalan nasional yang mengubungkan Padang-Bukittinggi.  Dinding penahan erosi sungai yang dekat dengan jalan raya rusak parah dan menyebabkan putusnya jalan, terutama dekat Jembatan Kembar Kereta Api Lembah Anai. Parahnya, aliran sungai telah memakan jalan dan kini badan sungai kian melebar. Pemandian Alam Mega Mendung saja rusak tersapu oleh galodo dan Cafe Xakapa yang berada dibantaran sungai pun lenyap ikut berlayar hingga ke muara.

Lembah Anai, Penuh Pesona

Banjir Bandang Lembah Anai
Air Terjun Lebah anai, jembatan kereta api dan pekerja sekitar tahun 1900

Lembah Anai merupakan kawasan cagar alam yang dilintasi oleh jalan nasional dan jalur kereta api. Sudah sejak zaman kolonial, Lembah Anai ditetapkan sebagai cagar alam sesuai Surat Keputusan No. 25 Stbl No. 756 tanggal 18 Desember 1922.  

Dalam berbagai catatan perjalanan, Lembah Anai atau bernama de Anei kloof  ini direkomendasikan oleh pemerintah Hindia Belanda sebagai tempat tujuan wisata. Keindahan alamnya yang mempesona menjadi atraksi tersendiri. Apalagi ketika melintasi menggunakan kereta api, pemandangan alam yang indah akan disuguhkan selama perjalanan.

Jika bicara Lembah Anai tidak terlepas dari keberadaan Air Terjun Lembah Anai, Pemandian Alam Mega Mendung dan jalur kereta api. Ketiganya ini berlokasi di tepi jalan dan dekat bantaran sungai. Air Terjun Lembah Anai sangat terkenal sekali, tapi ada juga air terjun yang populer lainnya yang banyak dijelajahi yaitu Air Terjun Proklamator. 

Banjir Bandang Lembah Anai
Suasana pembangunan jembatan kereta api berlatarkan air terjun lembah anai sekitar tahun 1891

Air Terjun Lembah Anai ini memiliki nama lain air mancur dan aia tajun. Dari berbagai laporan perjalanan, surat kabar dan judul dokumentasi zaman kolonial, dua kata tersebut menggambarkan nama Air Terjun Lembah Anai. Bagi masyarakat Minangkabau, air terjun ini menjadi sebagai tanda petunjuk bagi kerabat yang menanyakan posisi jika sedang berpergian.

Lah dimaaa kini?
Dakeknyo, di aia mancua

Seperti dikutip Tirto, Elizabeth E. Graves dalam buku Asal-usul Elite Minangkabau Modern: Respons terhadap Kolonial Belanda Abad XIX/XX (2007) menuliskan, masyarakat sekitar mendapat perintah untuk menjadi pekerja paksa saat pembuatan jalan raya di Lembah Anai. 

Panjang proyek jalan Lembah Anai sekitar 10 mil atau sekitar 17 kilometer. Di banyak tempat, para pekerja harus menyingkirkan batu-batu besar yang menghalangi arah jalan. Para pekerja memang dikerahkan dari sejumlah daerah di sekitar kawasan itu, sebab penduduk setempat jumlahnya tak seberapa. 

Banjir Bandang Lembah Anai
Lokomotif uap mendorong gerbong batubara tahun 1915

Majalah VRIJ BELGIE terbitan September 1916 menuliskan judul Naar Oost-Indië. Een Dagboek van Emiel Hullebroeck (Ke Hindia Timur. Buku Harian Emiel Hullebroeck). Dalam ceritanya, ia menikmati perjalanan menggunakan kereta api dari Padang menuju Sawahlunto. Kereta api menempuh perjalanan selama tiga jam dari Padang, menuju dataran tinggi di Kaju Tanam.

Dari Kayu Tanam, kereta api dan gerbong tidak lagi ditarik, melainkan didorong. Lembah Anai akan menyapa dan perjalanan indah dimulai. Kereta api perlahan-lahan didorong ke atas, melewati ngarai sempit, di antara dinding perbukitan yang tinggi dan ditumbuhi rimbunnya pepohonan. 

Sejak saat itu, lembah ini menawarkan pemandangan yang selalu berubah dari berbagai sudut arah. Terkadang dengan view ke kiri, terkadang ke kanan, dan melewati aliran air di antara bebatuan besar. Di atas jembatan kedua terlihat Ajer Mantjoer, air terjun yang mengalir jatuh sepanjang 30 meter. Aliran-aliran air turun dari setiap celah perbukitan dan seseorang memahami sepenuhnya bahwa sungai yang penuh tawa, berceloteh riang, yang kini mengalir begitu pelan dan mengoceh.

Banjir Bandang Lembah Anai
Suasana Air Terjun Lembah Anai pada 1870

Lembah Anai tidak semuanya memiliki jalur dengan dinding yang sempit, terkadang pandangan bisa lebih luas, terutama di lembah yang membelah di atas aliran sungai. Itu adalah salah satu poin terindah dari perjalanan ini.

Satu jam kemudian sampai di Padang Panjang. Kereta api membawa ke ketinggian 773 mdpl. Di Padang Padang dapat mengambil dua arah dengan jalur kereta api bergigi yang memanjang dan jalur normal yang menyimpang ke kanan menuju Sawahlunto.

Meskipun demikian, Lembah Anai itu salah satu jalur yang paling cantik yang bisa dinikmati selama berkendara di Ranah Minang. Antara kesunyian dan ketenangan akan disuguhkan berbalut pemandangan perbukitan Lembah Anai yang mempesona. Buya Hamka saja menjadikan kawasan Lembah Anai ini sebagai salah satu latar dalam novel Di Bawah Lindungan Kabah.

Lembah Anai memiliki susananya hijau, sejuk dan serasa berada di pedalaman hutan. Apalagi jika jalur kereta api itu aktif. Betapa indahnya perjalanan ketika melintasi perbukitan dan masuk ke dalam terowongan yang memberikan sensasi yang aduhaaaii, memorable sekali.

Lembah Anai, Cantik Tapi...

Banjir Bandang Lembah Anai
Jembatan Kembar Lembah Anai yang rusak akibat banjir bandang 23-24 Desember 1892

Wilayah Lembah Anai yang diselingi bukit, lembah dan sungai yang deras sering menjadi sasaran banjir bandang bila turun hujan mengguyur di daerah pedalaman Minangkabau (Padangsche Bovenlanden). Dalam perjalannya tekadang keindahan Lembah Anai membawa kecemasan dan petaka dari dampak ekologis yang terjadi.

Sebut saja, Air Terjun Lembah Anai pada momen-momen tertentu debit airnya bisa sangat tinggi bahkan bisa meluber hingga menutupi jalan raya. Terkadang harus menunggu hingga debit air normal dan mengakibatkan terhambatnya mobilitasi barang dan jasa.

Banjir Bandang Lembah Anai
Jalur rel kereta api terbawa banjir bandang 23-24 Desember 1892
Banjir Bandang Lembah Anai
Jembatan Kembar Lembah Anai dan jalan nasional yang terdampak banjir bandang 11 Mei 2024

Jalan nasional yang melintasi Lembah Anai ini berdampingan dengan aliran sungai yang terkadang jika debit air tinggi membuat pelindung jalan tergerus sehingga di beberapa titik jalan akan amblas. Erosi sungai di sepanjang jalan nasional ini berisiko tinggi.

Parahnya lagi, jika hujan lebat dan debit air yang tinggi terkadang membuat longsor di titik-titik tertentu. Banjir bandang menjadi hal yang paling ditakutkan di Lembah Anai ini. Sejak pembukaan kawasan ini oleh pemerintah Hinda Belandan, jalan di kawasan Lembah Anai ini sering mengalami masalah jika hujan besar yang menyebabkan tanah longsor menutupi jalan dan erosi pada bantaran sungai. 

Christiaan Benjamin Nieuwenhuis fotografer era kolonial yang banyak mengabadikan momen di Sumatra Westkust pernah mengabadikan dampak banjir bandang di Lembah Anai. Banjir bandang yang terjadi pada tanggal 23-24 Desember 1892 ini mengakibatkan rusaknya jalur kereta api, jembatan kembar kereta api dan rusaknya jalan raya. Padahal jalur kereta ini dibangun, tepat satu tahun setelah pembuatan jalur kereta api Padang-Padang Panjang.

Banjir Bandang Lembah Anai
Kolase perbandingan suasana banjir bandang tahun Desember 1892 dan Mei 2024

Majalah De Locomotief terbitan Februari 1893, menuliskan judul Runtuhnya Tiga Jembatan di Jalur Kereta Api Ombilin. Hujan lebat yang terjadi pada tanggal 23-24 Desember 1892 telah merusak tiga jembatan akibat derasnya aliran Batang Anai. Pada saat yang sama, sebagian jalan pos tersapu ke dalam jurang. Semua kerusakan ini terjadi dalam waktu singkat 4-5 jam. Dilaporkan lebih lanjut bahwa banjir ini merupakan banjir besar yang sangat merusak dan belum pernah terjadi di Lembah Anai sejak dahulu kala. 

Dinas Pekerjaan Umum Sipil Hindia Belanda tahun 1893 juga melaporkan, jalur transportasi hanyut seluruhnya, jalur pejalan kaki pun hilang. Dasar Batang Anai telah bergeser hampir di sepanjang alirannya menjadi lebih lebar dan lebih dalam.  Sementara batu-batu besar besar yang terbawa arus menumpuk di mana-mana. Dinding batu yang curam dan keras telah tergerus di beberapa tempat.  Bebatuannya  terangkut hingga terbawa arus sungai.

Banjir Bandang Lembah Anai
Kerusakan jembatan dekat Halte Kampung Tangah akibat banjir bandang 23-24 Desember 1982

Banjir Bandang Lembah Anai
Jalur rel kereta api terbawa banjir bandang 23-24 Desember 1892 

Pada tanggal 23 Desember 1892 malam, ruas lintasan kereta api yang dibangun oleh A. E Wijss antara Stasiun Kandang Ampat dan Halte Stasiun Kampong Tangah sekitar 5 km di hulu sungai rusak parah akibat banjir bandang. Jembatan besi di Kampung Tengah hancur menjadi potongan-potongan kecil, sungai menjadi lebih dalam sekitar 4 m. Batu-batu besar menghancurkan kepala jembatan (abutment), dinding penyangga jalan dan tiang jembatan sehingga ada bagian jembatan yang rusak terbawa arus (Majalah Spoor-en Tramwegen, 1943)

Lembah Anai memang terkenal dengan keindahan alamnya dan Lembah Anai terkenal juga dengan banjirnya. Pada tanggal 24 Desember 1892, ketika jalur kereta api hampir selesai tetapi belum dibuka untuk lalu lintas, hujan lebat dengan intensitas tinggi menguyur kawasan Lembah Anai selama hampir 8 jam (Majalah Op de hoogte, 1918).

Banjir Bandang Lembah Anai
Banjir Bandang Lembah Anai
Jembatan Kembar Lembah Anai dan jalan nasional yang terdampak banjir bandang 11 Mei 2024

Pada tanggal 24 Desember 1982 pagi, jalur rel kereta api ditemukan sebagian besar rusak. Rel dan bantalannya terkubur di bawah batu-batu besar yang terbawa arus. Akibatnya, jalur kereta api putus dan tidak bisa digunakan (Majalah Spoor-en Tramwegen, 1943).

Pada tanggal 25 Desember 1892, sebanyak 100 orang dari Afdeling Batipuh dan X Koto dikerahkan untuk bekerja setiap hari membersihkan jalan setapak di perbukitan sekitaran area terdampak longsor dan banjir bandang (Laporan Dinas Pekerjaan Umum Sipil Hindia Belanda, 1893).

Sementara itu, laporan berita Het Nieuws van den Dag (Februari 1893) menuliskan ada sekitar 4000 orang pekerja yang memperbaiki kerusakan dampak banjir bandang Desember 1892 ini.

Banjir bandang di Lembah Anai pernah juga terjadi tahun 1904. Banjir besar ini mencoba menerobos dinding lembah yang tinggi dan tegak lurus. Banjir ini datang dari bendungan yang tercipta akibat runtuhnya tanah yang membuat sungai semakin lebar dengan membawa bebatuan besar. Namun, kekuatan benduangan yang terjadi akibat banjir bandang ini tidak berhenti lama, air akhirnya menerobos masuk melalui sumbat di dasar sungai yang sempit ini, dan kemudian mengalir turun seperti dinding air dari ketinggian 10 meter (Majalah Op de hoogte, 1918).

Banjir Bandang Lembah Anai
Jembatan Kembar Lembah Anai dan jalan nasional yang terdampak banjir bandang 11 Mei 2024

Ternyata ada catatan lainnya yang menyebutkan pada tahun 1914 terjadi banjir bandang kembali. Ketika itu kawasan Lembah Anai hujan lebat, sebagian besar dinding perbukitan kembali runtuh dan tergerus aliran sungai. Banjir datang dan membuat lubang-lubang lebar di jalan pos, sehingga dalam waktu singkat seluruh pohon dan jembatan turut terkubur (Majalah Op de hoogte, 1918).

Sayangnya dokumentasi banjir bandang tahun 1904 dan 1914 tidak ada (tepatnya belum ditemukan). Sejauh ini berupa narasi warta berita dan laporan-laporan. Berbeda dengan banjir bandang 1892 cukup banyak dokumentasi yang menggambarkan suasana kerusakannya. 

Banjir Bandang Lembah Anai
Longsor  menutup jalur kereta api dampak hujan besar dan banjir bandang tahun 1904.

Kerugian dari bencana ekologi ini tidak hanya merusak sarana prasarana tapi memberikan dampak menurunnya pendapatan perusahaan kereta api di pantai barat Sumatera. Jika dilihat dari laporan keuangan pada tahun 1904 lebih rendah dari tahun 1903. Hal ini disebabkan salah satu faktornya karena terbebaninya biaya operasional untuk pekerjaan perbaikan di jalur dan jalan kereta api di Lembah Anai (De ingenieur, 1906).

Tempo itu juga, beberapa kebutuhan rumah tangga yang diangkut dari sini ke Padangsche Bovenlanden mengalami kenaikan harga, seperti minyak tanah minyak bumi, dimana seseorang membayar sekitar 4 gulden menjadi 12  gulden di Padang Panjang dan 15 gulden di Bukittinggi. Begitu juga harga sayuran, kentang, daging dan sejenisnya yang berasal dari Padangsche Bovenlanden menjadi lebih mahal (Het Nieuws van den Dag, Februari 1893)

Duka di Lembah Anai pun tidak sertamerta berasal dari alam, tapi memang faktor lainnya seperti kecelakaan  kereta api dan kendaraan.  Koran Kompas edisi 29 Juni 2000 melaporkan, ada sebanyak lima gerbong kereta api pengangkut batubara terlepas dari rangkaiannya dan jatuh di Lembah Anai. Peristiwa ini menewaskan belasan orang dan sembilan luka berat.

Mengenal Jembatan Kereta Api Lembah Anai

Banjir Bandang Lembah Anai
Jembatan kembar yang berada antara perbatasan Kabupaten Padang Pariaman dan Kabupaten Tanah Datar Tahun 1913

Berbicara Jembatan Kereta Api Lembah Anai, maka akan bercerita bagaimana kejayaan tambang batubara dan pembangunan infastruktur di Ranah Minang itu berkembang dengan pesatnya. Jejaknya pun masih dapat dijumpai hingga saat ini.

Jembatan ini masuk kedalam jaringan infrastruktur perkeretaapian (Railway Facilities and Engineering Structures) Warisan Dunia Tambang Batubara Ombilin Sawahlunto (WTBOS). Kawasan ini masuk Area B yang merupakan bagian fasilitas dan struktur teknis perkeretaapian proyek tiga serangkai (Pilot Project Sistemic Linkage) yang dibuat oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda di Minangkabau.

Banjir Bandang Lembah Anai
Jembatan Kembar dekat pemandanian mega mendung sebelum tahun 1892 (Sumber: KITLV)

Terbayang saja setiap perjalanan jalur kereta api dari Stasiun Padang Panjang - Stasiun Kayu Tanam akan melintasi perbukitan dan Air Terjun Lembah Anai yang telah kesohor sejak zaman kolonial. Termasuk melewati jembatan-jembatan yang eksotik ini. Ada sekitar 11 jembatan dan 2 terowongan kereta api

Tempo dulu menjadi sarana infakstruktur untuk mengangkut batubara dan mobilisasi perdaganan serta orang dari pedalaman Minangkabau ke pesisir pantai, begitu juga sebaliknya. Jembatan-jembatan ini secara simultan diperkirakan dibangun sejalan dengan pembangunan jalur kereta api Padang Panjang-Solok yang selesai pada 1 Juli 1892.

Banjir Bandang Lembah Anai
Jembatan kereta yang berada dekat Halte Kampung Tangah sekitar tahun 1883-1899

Majalah Spoor-en Tramwegen tahun 1943 menuliskan, jalur kereta api di Lembah Anai memiliki 6 jembatan yang membentang 30-50m. Ada jembatan lengkung dua berengsel dengan tegangan antar titik tumpu 56 m dan tinggi 15 m. Termasuk bentang penghubung, panjang total struktur adalah 111 m. Ada dua terowongan di Lembah Anai yang masing-masing panjangnya 35 m dan 70 m.

Penelitian pertama mengenai jalur pengangkutan batubara ke pantai barat Sumatera dipimpin oleh J.L Cluysenaer tahun 1873. Kemudian instruksi pembangunan jalur kereta api batubara ini berdasarkan Staatsblad van Nederlandsch-Indie No. 163 tanggal 6 Juni 1887. 

Banjir Bandang Lembah Anai
Aktivitas para pekerja di dekat jalur rel bergerigi sekitar 1892-1900

Pelaksanaan pembangunan jalur kereta api batubara ini dipimpin oleh J. W. Ijzerman dengan lembaga pengelola perkerataaapiannya bernama Sumateraatau Staatsspoorwegen ter Sumatra Westkust (SSS) sesuai Surat Keputusan Gubernur Jendral Hindia Belanda tertanggal 17 September 1887.

Uniknya, jenis rel yang membentang mulai dari Stasiun Kayu Tanam ke Stasiun Padang Panjang hingga Stasiun Batu Taba yang panjangnya ± 22 KM ini menggunakan rel bergerigi (tandradbaan/tandstaaf) dengan sistim Rigenbach. Penggunaan sistem ini mengingat topografinya perbukitan dan lembah yang harus dilalui, maka sistem ini menjadi solusinya untuk mengangkut batubara. Tempo itu, jalur trasportasi kereta api dengan rel bergerigi tidak banyak digunakan di Indonesia.

Jembatan Tinggi Lembah Anai

Banjir Bandang Lembah Anai
Suasana kereta api melintasi Jembatan Tinggi

Jembatan yang fenomenal di Lembah Anai adalah Jembatan Tinggi atau Jembatan Lengkung (boogbrug). Jembatan jenis ini termasuk yang pertama ada di Indonesia. Jembatan Tinggi dirancang oleh A. Kuntze yang diproduksi oleh pabrik Société Cockerill di Seraing, Belgia tahun 1890.

Lokasinya dekat perbatasan Kota Padang Panjang. Jembatan ini akan melintang di atas jalan raya nasional. Indah, megah, dan kokoh itu gambaran yang menunjukan jembatan ini. Sudah beragam peristiwa dilakui, termasuk pasca banjir bandang 11 Mei 2024 lalu yang hanya terjadi gerusan pada abutmen.

Banjir Bandang Lembah Anai

Data inventarisasi BP3 Sumbar menuliskan, Jembatan Tinggi memiliki panjang 108,5 meter, jari-jari (lingkaran) lengkung jembatan adalah 35 meter, panjang setengah lingkaran 60 meter, kemiringan 680/00 ketinggian rel jembatan dari sungai 36 meter, tinggi total konstruksi jembatan 16 meter, berat total jembatan 169.710 Kg.

Fun fact lainnya. pembangunan jalur rel kereta api di Lembah Anai dan gugusan Bukit Barisan merupakan perwujudan prestasi luar biasa dalam teknik perkeretaapian dan pertambangan di Asia Tenggara selama akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19.

Penggunaan teknologi serupa di Lembah Anai adalah percobaan pertama yang berhasil dilakukan di Asia. Teknologi ini hampir dapat menyamai yang digunakan di Swiss dalam hal menciptakan jalur kereta api paling curam di dunia. Lembah Anai memiliki morfologi yang kasar dan medan yang menantang. Untuk memiliki adaptasi sifat-alam yang harmonis, perencanaan yang teliti dan perhitungan teknik yang tepat perlu dilakukan untuk membuat jalur rel kereta api yang curam.

Banjir Bandang Lembah Anai

Kawasan Lembah Anai selain menjadi cagar alam juga menjadi warisan budaya dunia. Keberadaan jalur kereta api menjadi daya pikat yang tidak bisa dilepaskan akan keindahannya Lembah Anai yang secara tidak langsung menjadi living museum dan laboratorium bagi para penikmatnya.

Jalur kereta api dan segala pernak pernik yang menyertainya ini sangat penting dan harus ada upaya perlindungan berbagai pihak. Meskipun jika dibandingkan banjir bandang tahun Desember 1892 dan Mei 2024 beda kondisi kerusakannya tapi harus ada upaya dan aksi nyata dalam rehabilitasi dan pelestariannya.

Kondisi Lembah Anai yang unpredictable ini dapat menggambarkan betapa berisikonya dampak ekologi yang bisa menghambat aktivitas perniagaan dan jasa serta mobilisasi warga khususnya di wilayah Sumatera Barat.
————————————————————————————————————————————————————
©Hak Cipta Bayu Haryanto. Jika mengkopi-paste tulisan ini di situs, milis, dan situs jaringan sosial harap tampilkan sumber dan link aslinya secara utuh. Terima kasih.

2 comments:

  1. Andalann😎 harus nyusul juga nih bikin postingan. Btw, thank u infonya jugaaa Baaang 😎

    ReplyDelete
  2. Sangat emosional saya nih kalau membaca sejarah begini. Tertera tahun 1900an benar2 seabad lalu itu pembangunannya. Menarik juga ini lokasinya banjir badang lebih dari satu kali. Kondisi yang sama mungkin ya, jadi wajib waspada. Kalau perlu, harus ada pencegahan (jika mungkin)

    ReplyDelete